1. JAWA TENGAH
  2. WISATA

Yuk intip Museum Samanhoedi ikon pejuang saudagar batik

"Perjuangannya sangat membahayakan bagi pemerintah kolonial. Karena sangat radikal dari sisi gerakan, pemikirannya yang merindukan kesetaraan."

Rangkaian foto foto Samanhoedi bersama keluarga.. ©2017 Merdeka.com Editor : Ibrahim | Jum'at, 10 November 2017 12:55

Merdeka.com, Jawa Tengah - Bangunan joglo di kompleks perkantoran Kelurahan Sondakan, Kota Surakarta, tampak ramai dibandingkan hari biasa. Sejumlah orang tampak asyik duduk- duduk bercengkerama di bangunan bernama Balai Samanhoedi yang menjadi bagian wilayah administratif Kecamatan Laweyan

Sebab siang itu berlangsung kegiatan Mbatik Bareng bertema 'Indonesia, Samanhoedi dan Batik' yang merupakan rangkaian agenda tahunan Napak Budaya Samanhoedi 2017 di kampung terletak di bagian barat kota Surakarta ini.

Suwardi (68) salah satunya. Mengenakan topi hitam bertuliskan 'KORAMIL 01/LAWEYAN', pria yang lahir lima tahun pasca Hari Kemerdekaan Indonesia ini terlihat asyik bercerita tentang sosok yang memberikan andil besar dalam riwayat pergerakan nasional melalui organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) pada abad ke-20 itu.

"Haji Samanhoedi itu tokoh pahlawan nasional kelahiran Sondakan tahun 1868 dengan nama kecil Sudarno Nadi. Dia meneruskan usaha batik ayahnya, Haji Ahmad Zein, yang juga dikenal sebagai saudagar batik di daerah Laweyan. Mengingat jasanya, di Sondakan memiliki jalan, balai, museum, dan event budaya dengan nama Samanhoedi," ujarnya, saat ditemui di kantor kelurahan yang terletak di Jl KH Samanhudi No 75 ini.

Lantas Suwardi mengajak ke tempat Museum Samanhoedi berada. Ternyata, lokasi museum hanya dibatasi oleh dinding bangunan balai, tepatnya menempati ruang bagian belakang yang sebelumnya diperuntukkan sebagai Rumah Dinas Lurah Sondakan.

Dikatakannya, Museum Samanhoedi dirintis sejak 2009 oleh Ketua Yayasan Warna Warni Indonesia Krisnina Maharani, istri mantan Ketua DPR Akbar Tandjung. Dua tahun menempati bekas sebuah gudang batik di Jalan Tiga Negeri Kampung Laweyan, akhirnya Museum Samanhoedi 'pulang kampung' ke lokasinya sekarang.

Begitu memasuki ruangan museum berukuran sekitar 4 x 12 meter ini, jangan bayangkan akan menemukan beragam koleksi benda-benda pribadi Samanhoedi. Isi ruangan hanya terpajang dokumen dan foto- foto rangkaian perjuangan Samanhoedi lewat SDI yang terinspirasi dari buku disertasi berjudul 'Zaman Bergerak Radikalisme Rakyat Jawa 1912 – 1926' karangan Indonesianis asal Jepang, Dr. Takashi Shiraishi.

"Kebanyakan adalah dokumen dan foto- foto repro yang kita dapat dari trah (keturunan) Samanhoedi. Bahkan Bu Nina (Krisnina Maharani) sampai melacaknya hingga ke Belanda. Ada yang terputus, kami tidak menemukan data sejak 1918 setelah dia lengser jadi Ketua CSI (Centraal Sarekat Islam)," ujar Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Sondakan itu.

"Karena Haji Samanhoedi saat itu jatuh miskin dan sakit- sakitan. Sehingga berpindah- pindah mengikuti 9 anaknya. Baru tahun 1944 sampai meninggal 28 Desember 1956 di Klaten dan dimakamkan di Banaran, Grogol, Sukoharjo, kami bisa menemukan datanya lagi," sambung Suwardi.

Sembari menata rangkaian foto dan dokumen yang terpasang di whiteboard berkaki roda, dia menceritakan, ketika duduk di bangku Sekolah Rakyat atau setingkat SD pernah menempati gedung sekolah di bekas rumah Samanhoedi. Suwardi lantas membayangkan bagaimana aktivitas saudagar batik itu saat berjuang melepas belenggu kebijakan kolonial pemerintah Hindia Belanda yang tercermin dari koleksi museum Samanhoedi.

Menurutnya, Samanhoedi muda hidup di zaman penuh perubahan. Selepas masa tanam paksa atau Cultuur Stelsel, dia dihadapkan pada kondisi negara yang dalam tekanan mental maupun ekonomi. Kondisi itu diperparah dengan terbitnya Pasal 163 IS (Indische Staatsregeling) tentang kewarganegaraan di Hindia Belanda terbagi atas golongan Eropa, Timur Asing, dan Inlander alias pribumi.

"Perjuangannya sangat membahayakan bagi pemerintah kolonial. Karena sangat radikal dari sisi gerakan, pemikirannya yang merindukan kesetaraan, dan radikal dalam jumlah anggota. Bahkan saat digeledah pada 1812, dari buku Bendahara SI ditemukan catatan 35 ribu anggota di Solo Raya. Mereka masing-masing iuran 25 sen, lebih sedikit ketimbang iuran anggota Budi Utomo sebanyak 250 sen. Makanya Samanhoedi itu kalau kongres pasti tombok dari kantong sendiri," papar Suwardi.

Selain dikenal royal, lanjut pensiunan guru SMKN Cawas, Klaten ini, Samanhoedi juga melek literasi. Hal ini terlihat dari isi museum yang menampilkan kliping gambar koran 'Medan-Prijaji' tentang riwayat singkat Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Media tersebut digawangi oleh sahabat sekaligus pembuat Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) SDI, yakni Raden Mas (RM) Tirto Adhi Suryo.

"SI Surakarta juga memiliki corong berupa media Sarotama. Artinya, zaman pergerakan nasional kala itu memang sudah ada kesadaran bermedia. Karena kata Tirto, 'perjuangan tidak usah pakai senjata. Perjuangan dengan organisasi dan media'. Nah, kebetulan Haji Samanhudi punya itu semua plus harta," tandasnya.

Rangkaian foto di museum itu juga merekam saat-saat upacara pemakaman Haji Samanhoedi yang ribuan pelayat di Desa Banaran, Kecamatan Grogol, Sukoharjo. Selang empat tahun meninggal dunia, putra keduanya, Soekamto Samanhudi, atas nama keluarga Haji Samanhudi menerima gelar pahlawan nasional 'Bintang Maha Putra' dari Presiden Soekarno di Istana Merdeka pada 15 Februari 1960. Dia juga menerima sebuah rumah di wilayah RT 1 RW 4 Kelurahan Pajang, Laweyan, Solo.

"Sudut pengambilan pemakaman itu diambil dari Masjid Besar Laweyan. Ribuan pelayat melintas di jembatan Laweyan yang masih belum diperbaiki. Foto lainnya juga memperlihatkan rumah pemberian pemerintah pada 1962. Jadi, Haji Samanhudi justru belum pernah menempati hadiah rumah dari Bung Karno," paparnya usai mengajak keliling museum.

Di sisi lain, pihaknya saat ini tengah mengusulkan pemindahan Museum Samanhoedi ke bekas rumah milik tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mantan Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Polisi Djoko Susilo, di Jalan Perintis Kemerdekaan No 70, Sondakan, Laweyan, Solo. Hal itu mengingat Kantor Kelurahan Sondakan sebagai lokasi museum saat ini dianggap kurang representatif.

"Rumah milik Djoko Susilo itu kan sudah dihibahkan KPK kepada Pemkot Solo. Apalagi mau dibikin jadi Museum Batik. Nah, kita sedang mengusulkan ke Pemkot untuk minta satu ruangan agar digunakan sebagai Museum Samanhoedi. Sehingga masyarakat bisa mengetahui lebih dekat perjuangan Haji Samanhoedi," tutup Suwardi.

(I) Laporan: Aditya Putra Wijaya
  1. Pariwisata
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA