1. JAWA TENGAH
  2. WISATA

Sempat mati suri, wisata eksotis Klaten ini dibangkitkan karang taruna

"Semangat kami, bagaimana mengembangkan Deles Indah ini agar kembali ramai sebelum krisis moneter 1998."

Pengunjung berfoto di Deles Indah, Klaten.. ©2016 Merdeka.com Editor : Ibrahim | Senin, 20 Februari 2017 08:27

Merdeka.com, Jawa Tengah - Hampir satu dekade geliat wisatawan di objek wisata Deles Indah di Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten mati suri. Sejumlah bangunan vila, hotel, dan losmen mangkrak begitu ditinggalkan pemiliknya di destinasi yang memiliki daya tarik pemandangan Gunung Merapi itu.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, pemuda Karang Taruna Dukuh Deles mencoba kembali membangkitkan denyut nadi wisatawan. Memanfaatkan lahan milik Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) resort Kemalang, secara swadaya mereka merintis objek wisata baru berupa taman bermain dengan ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut (Mdpl).

"TNGM resort Kemalang sangat mendukung. Yang penting jaga kelestarian alam, dan jangan ada penebangan pohon. Kemudian sejak Natal lalu, kita mulai buka dengan membangun anjungan berbahan bambu di bibir bukit Hargo Belah. Setelah itu, sedikit demi sedikit kita tambah dengan fasilitas ayunan, gubuk, dan menara pandang sekitar 3 meter. Konsepnya, banyak gazebo, taman dengan beraneka bunga, dan natural, tanpa ada cor maupun bangunan yang berbahan besi," kata perwakilan Karang Taruna Deles, Sarjino (40).

Meski mulai ramai didatangi pengunjung, menurut dia, wisata alam yang juga menawarkan pemandangan Kota Jogja dan Klaten di atas awan itu masih jauh dari kesan sempurna. Pasalnya, pendanaan maupun pengerjaan murni berasal dari kantong dan tenaga warga. Namun hal itu merupakan angin segar untuk membangkitkan kembali pamor objek wisata Deles Indah.

"Dulu hari Minggu cari 100 pengunjung saja sulit. Sekarang 300-500 (pengunjung) gampang. Bahkan malam Tahun Baru kemarin jumlah pengunjung sekitar seribuan orang. Karena semua datang dari warga, kami juga tidak memiliki kendala maupun target kapan harus selesai. Semangat kami, bagaimana mengembangkan Deles Indah ini agar kembali ramai sebelum krisis moneter 1998," ujar Sarjino, sekaligus anggota Komunitas Anak Pecinta Lingkungan (Kancing) lereng Gunung Merapi Klaten.

Kendati lokasinya berada di Bukit Hargo Belah, dalam berpromosi di sosial media pihaknya tetap menyebut Deles Indah sebagai nilai jual dan daya tarik kepada wisatawan. Selain itu, sambung dia, pihaknya juga masih menyimpan kejutan berupa jalur trekking menyusuri segarnya suasana alam Gunung Merapi.

"Sampai sekarang belum ada kesepakatan soal nama (objek wisata). Karena yang dulu itu dikelola dinas pariwisata, kalau ini kan masuk zona pemanfaatan TNGM. Maka setelah gratis selama satu bulan, mulai Ferbruari ini kami menjualkan tiket sebesar Rp 6.000 (Rp 1.000 untuk asuransi). Meski kenyataannya dua orang hanya beli satu tiket, ketimbang lolos, mending begitu agar TNGM dapat (pemasukan)," sambung Sarjino.

Salah seorang pengunjung yang juga pelajar di SMKN 1 Klaten, Ismi Nur Hidayah (17), mengaku sengaja datang ke Deles Indah untuk mengerjakan tugas ujian praktek sekolah. Mengambil jurusan Multimedia, dia memotret setiap jengkal pemandangan kawasan wisata di kaki Gunung Merapi tersebut.

"Dulu Deles itu terkenal. Kenapa kita jauh-jauh mengenali daerah lain, kalau di tempat kita sendiri ada lokasi wisata alam yang indah. Apalagi kalau ke sini malam hari itu sebenarnya bagus, tapi enggak ada listriknya. Selain itu, akses jalan belum memadai. Anak kota masih takut ke sini karena jalannya buruk," ungkap Ismi, warga Desa Bumiharjo, Kemalang.

(I)
  1. Pariwisata
  2. Ekbis
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA