1. JAWA TENGAH
  2. WISATA

Pernah dipendam di tanah, inilah 40 foto langka Jenderal Soedirman

Masyarakat Indonesia perlu berbangga memiliki seorang pejuang yang dikenal dengan semangat pantang menyerahnya seperti Soedirman.

Kurator Museum Soesilo Soedarman, Dwisuryo Indroyono Soesilo menyerahkan koleksi foto Jenderal Soedirman, kepada Bupati Banyumas, Achmad Husein di Museum Panglima Besar Jenderal Soedirman, Banyumas, Sabtu (17/6). ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Minggu, 18 Juni 2017 10:50

Merdeka.com, Jawa Tengah - Museum Soesilo Soedarman Cilacap menyumbangkan 40 koleksi foto langka Jenderal Soedirman ke Museum Panglima Besar Jenderal Soedirman Purwokerto. Foto-foto karya Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) tersebut diserahkan kurator Museum Soesilo Soedarman, Dwisuryo Indroyono Soesilo kepada Bupati Banyumas, Achmad Husein, Sabtu (17/6).

"Ini foto-foto otentik Jenderal Soedirman. Beliau adalah satu di antara 169 pahlawan nasional Indonesia, beliau adalah pendiri TNI dan beliau adalah orang Banyumas. Kalau anda ke Makassar pasti identik dengan Hasanuddin, ke Aceh ada Teuku Umar, Ambon pasti ada Pattimura. Nah, Banyumas itu punya Jenderal Soedirman," kata Indroyono.

Mantan Menko Maritim dan Sumber Daya RI ini mengatakan, foto-foto otentik tersebut sebagian besar menggambarkan perjuangan Panglima Besar Soedirman semasa mempertahankan kemerdekaan Indonesia saat serangan agresi militer Belanda. Foto-foto ini sempat disembunyikan oleh anggota IPPHOS dengan cara dipendam di tanah agar tidak disita oleh penjajah.

Menurut dia, masyarakat Indonesia perlu berbangga memiliki seorang pejuang yang dikenal dengan semangat pantang menyerahnya seperti Soedirman. Dia adalah salah satu dari tiga pahlawan nasional dari wilayah Banyumas, selain Jenderal Gatot Soebroto dan Usman Janatin.

Indroyono menuturkan, dari foto-foto tersebut dapat dilihat karier Soedirman yang terbilang cukup mentereng. Pria yang dilahirkan di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang Purbalingga itu bergabung pasukan Pembela Tanah Air (PETA) yang dipersiapkan untuk menghadapi tentara Sekutu dan berlatih di Bogor.

Sepulang dari pelatihan, Soedirman diangkat sebagai Daidanchu (Komandan Peleton). Meski didikan Jepang, namun semangat untuk memerdekakan Indonesia tetap membara.

"Ketika Indonesia merdeka, 100 batalyon pasukan PETA ini yang membentuk BKR/TKR. Nah, Soedirman ini memimpin BKR/TKR Banyumas," kata dia.

Indroyono menuturkan, pada masa agresi militer Belanda, pasukan PETA mulai melucuti persenjataan tentara Jepang untuk menghadapi Belanda. Setelah pertempuran Palagan Ambarawa, seluruh pimpinan militer Indonesia berkumpul di Yogyakarta, Soedirman pun ditunjuk sebagai Panglima Besar.

Setelah Yogyakarta jatuh ke tangan tentara Sekutu, Jenderal Soedirman memimpin perang gerilya. Perang ini bisa dilihat dalam foto-foto yang diabadikan IPPHOS. "Semua ada tanggalnya, nanti tinggal di pigura, lalu disusun," kata dia.

Sementara itu, Bupati Banyumas, Achmad Husein mengatakan, foto yang disumbangkan oleh Museum Soesilo Soedirman ini sangat berguna bagi masyarakat Banyumas yang ingin mendapatkan gambaran tentang perjuangan Jenderal Soedirman. Serta sejarah masa perang kemerdekaan.

"Saya ucapkan terima kasih untuk Museum Soesilo Soedarman yang telah bekerjasama. Koleksinya sangat berharga dan semoga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat," kata dia. (suk)

(PU)
  1. museum
  2. Wisata Banyumas
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA