1. JAWA TENGAH
  2. WISATA

Penuh keunikan, masjid tertua di Indonesia ini harus dikunjungi

"Sewaktu mengganti pagar, masyarakat penganut Aboge (Alip Rebo Wage) tidak boleh berbicara satu sama lain."

Ornamen serta pelindung pada satu-satunya tiang yang ada di Masjid Sakatunggal, Banyumas.. ©2016 Merdeka.com Editor : Ibrahim | Minggu, 30 April 2017 10:41

Merdeka.com, Jawa Tengah - Salah satu peninggalan sejarah di Banyumas yang patut dikunjungi adalah Masjid Saka Tunggal yang terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon atau sekitar 30 kilometer ke arah Barat daya Kota Purwokerto, Masjid ini merupakan bangunan cagar budaya yang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia.

Dari penuturan sang Juru Kunci, Subagyo, penamaan saka tunggal pada masjid tersebut mengacu pada tiang masjid yang hanya berjumlah satu buah. Hingga kini tiang kayu berwarna hijau dan dipenuhi ukiran itu masih berdiri kokoh di ruang tengah masjid tersebut.

Sementara di bagian luar dilindungi dengan kaca untuk menjaga keasliannya. Ornamen-ornamen ukiran kaligrafi juga menghiasi beberapa sudut ruangan di dalam masjid.

"Di bagian atas tiang masjid ini ada bentuk menyerupai totem 4 sayap. Masyarakat setempat meyakini empat sayap itu menjadi makna atau simbol dari falsafah Jawa "Papat Kiblat Lima Pancer"," tuturnya, Sabtu (29/4).

Subagyo yang merupakan cucu ke 18 pendiri masjid ini menuturkan beratus tahun silam, masjid ini dijadikan sebagai pusat dakwah dan penyebaran Islam di Banyumas oleh Kyai Mustolih. Pemuka agama itu pun dimakamkan di hutan sebelah barat masjid.

Pada ukiran yang ada di dalam Masjid Saka Tunggal, diketahui masjid itu berdiri pada tahun 1288 Masehi. Sebelum adanya kerajaan Majapahit ataupun Walisongo dan sejak masa itu bangunan utama bagian dalam masjid tersebut tidak mengalami perubahan.

"Saat hari pasaran tertentu, seperti Rabu atau Jumat banyak peziarah yang berkunjung ke sini. Mereka juga memberi makan kera-kera yang berdiam di sekitar hutan. Kera itu dipercaya sebagai penunggu area peninggalan Kyai Mustolih," katanya.

Kepala Desa Cikakak, Suyitno menuturkan, setiap bulan Rajab masyarakat adat setempat dan jamaah Masjid Saka Tunggal menggelar prosesi Ganti Jaro Rajab setiap tahunnya. Prosesi ini merupakan kegiatan mengganti pagar bambu (jaro) di area masjid.

"Sewaktu mengganti pagar, masyarakat penganut Aboge (Alip Rebo Wage) tidak boleh berbicara satu sama lain. Yang terdengar hanya suara bambu dipotong dan dirangkai satu sama lain," kisahnya.

Keunikan lainnya, kata Suyitno, masyarakat sekitar masjid Saka Tunggal sebagian besar merupakan pengikut Aboge. Mereka memiliki perhitungan sendiri dalam penetapan 1 Syawal dan dalam pelaksanaan sholat Idul Fitri di Masjid ini khutbah disampaikan dalam bahasa Arab tanpa pengeras suara dan usai pelaksanaan ibadah Idul Fitri tersebut.

"Para jamaah melaksanakan pembacaan takbir, ratib, tahlil dan sholawat bersama-sama dengan iringan tabuh bedug dan terbang (rebana) serta saling bersalam-salaman bersama seluruh jamaah," ujarnya.

(I)
  1. Pariwisata
  2. Wisata Banyumas
  3. Wisata Religi
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA