1. JAWA TENGAH
  2. WISATA

Pemandu pendaki didorong kantongi sertivikasi

"Meski ini hobi yang dibayar, tapi kita juga harus memuaskan klien."

©2016 Merdeka.com Editor : Anton Sudibyo | Sabtu, 29 April 2017 08:46

Merdeka.com, Jawa Tengah - Mendaki gunung merupakan salah satu cara menghabiskan liburan yang kian digandrungi wisatawan lokal maupun manca negara. Tak heran, aktivitas memompa adrenalin di alam terbuka ini melahirkan peluang bisnis bagi penyedia agen wisata, termasuk pemandu gunung (mountain guide) dan pengangkut barang (porter).

Melihat potensi itu, Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) yang terbentuk pada Februari 2016 mendorong para pemandu gunung sebagai pekerjaan profesional dan memiliki standar kompetensi bersertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Pekerja (BNSP).

Pengurus Pusat APGI, Fajar Endarto menuturkan, APGI bersama Kementerian Pariwisata telah memfasilitasi 74 pemandu gunung lokal di Jawa Tengah dan DIY utuk mendapatkan sertifikasi dari BNSP pada tahun ini. Sebab, kendati pekerjaannya berisiko tinggi, jasa mereka juga masih dibayar dengan tarif sangat murah.

Apalagi dengan berlakunya era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), lanjut dia, pemandu lokal juga harus mampu meningkatkan kemampuan diri. Bukan hanya teknik pendakian, namun juga seluk beluk manajemen kepemanduan mulai dari penjemputan klien, penyiapan makanan, ilmu vulkanologi, serta penguasaan bahasa asing.

"Kenapa perlu sertifikasi? Selama ini enggak ada fee minimum yang ditetapkan sesuai standar. Ada yang dibayar murah banget, ada yang mahal banget. Bahkan ada yang cuma dibayar Rp 100 ribu ke puncak. Nah, sembari mengejar sertifikasi, kami juga sedang memperjuangkan aturan upah minimum layaknya UMR. Mungkin nanti ada semacam serikat kerja pemandu yang menggodok fee minimum itu agar ditetapkan pemerintah," tuturnya, saat ditemui di Hotel Selo Pass, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, kemarin.

Pemandu Gunung Merbabu, Hoses Mulyanto Nugroho (45) mengatakan, di jalur Suwanting, Kabupaten Magelang dia memasang tarif Rp 1 juta per dua hari satu malam sejak memperoleh sertifikat kompetensi tahun lalu. Sedangkan para pemandu lokal biasanya memasang tarif Rp 300 - 500 ribu, tergantung kesepakatan.

"Meski ini hobi yang dibayar, tapi kita juga harus memuaskan klien. Bahkan kalau high session dalam sebulan bisa memandu tiga - empat kali di gunung yang berbeda. Karena ada juga pendaki dari mancanegara yang menggunakan jasa saya," kata anggota APGI cabang DIY ini.

Sementara itu, Chief Executive Officer Indonesia Expeditions, Sofyan Arief Fesa mengungkapkan, perusahaannya menyediakan jasa penyelenggara pendakian gunung di seluruh dunia. Menurut satu dari empat orang Indonesia pertama yang menaklukkan tujuh puncak gunung tertinggi di dunia (Seven Summit) pada 2009 - 2011 lalui ini, tarif yang dibandrolnya pun bervariasi. Tergantung dari biaya transportasi, tingkat kesulitan gunung, serta lamanya proses pendakian.

“Kebanyakan klien kami dari Indonesia yang hendak mendaki gunung di luar negeri. Paling murah tarifnya 1.700 dollar Amerika per orang, paling mahal 8.000 dollar Amerika. Tapi pernah ada klien kami dari luar negeri habisnya sampai Rp 1,3 miliar karena pakai helikopter saat mendaki Gunung Leuser, Aceh,” ungkap lalu, saat ditemui sebagai instruktur pelatihan dasar bagi 40 pemandu gunung lokal di tujuh jalur pendakian Gunung Merapi dan Merbabu oleh APGI ini

(AS)
  1. Pariwisata
  2. Wisata Alam
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA