1. JAWA TENGAH
  2. WISATA

Pabrik gula, simbol kejayaan masa kolonial di Banyumas Raya

"....Tapi sudah banyak yang tertimbun bangunan dan pelebaran jalan...."

Peserta Jelalajah Banjoemas berjalan di tembok belakang Suikerfabriek Klampok, Banjarnegara. ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Senin, 17 Juli 2017 09:03

Merdeka.com, Jawa Tengah - Di wilayah Banyumas Raya, setidaknya ada lima pabrik gula yang menjadi simbol kejayaan masa kolonial Belanda, yaitu suikerfabriek Klampok, Kalimanah, Bodjong, Kalibagor dan Purwokerto. Namun, bekas-bekas itu peninggalannya bisa dikatakan hampir tak tersisa.

Selama tiga hari, wartawan merdeka.com bersama para pegiat komunitas Banjoemas History Heritage Community berusaha menelusuri jejak-jejak masa penjajahan Belanda dalam kegiatan Jelajah Banjoemas "Mrapat" yang meliputi Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap. Perjalanan di mulai dari Pabrik Gula Klampok di Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara.

Di wilayah kecamatan ini ditemukan sebuah pekuburan dekat bekas suikerfabriek (pabrik gula) Klampok. Pemakaman itu nampak tak terawat. Semak belukar dan rumput setinggi betis menutup seluruh bagian cungkup berbahan marmer. Nama-nama di nisan mulai lenyap termakan kerak lumut.

Tak banyak yang bisa dibaca dari kherkof (makam) Belanda di Klampok. Namun, jejak kolonial masih bisa terbaca di beberapa peninggalan yang berada di kawasan tersebut.

"Dulu, di sekitar sini banyak bekas rel Perusahaan Kereta Uap Lembah Serayu atau Serajoedal Stoomtram Maaatschappij (SDS). Tapi sudah banyak yang tertimbun bangunan dan pelebaran jalan. Yang masih bisa dilihat jembatan lori yang berdiri megah," kata pegiat Banjoemas History Heritage Community (BHHC), Gregory Hadiwono, di sela kegiatan Jelajah Banjoemas "Mrapat"," Kamis (13/7) lalu.

Suikerfabriek Klampok tersebut kini difungsikan sebagai Balai Latihan Kerja Pertanian Klampok. Rombongan berkeliling tembok bekas pabrik ini. Dari luar bangunan, kejayaan perkebunan tebu di wilayah Banyumas Raya seakan masih terasa.

Di masa lalu, tutur Gregory, pabrik yang dibangun tahun 1889 ini dipimpin oleh administratur bernama Jacobus Fransiscus de Ruyter de Wildt. Wilayah perkebunan tebunya terbentang mulai dari Kecamatan Purwonegoro, Mandiraja, Klampok, Susukan, Somagede hingga beberapa wilayah selatan Kabupaten Banyumas. Jaringan rel lori juga dibangun di wilayah Kecamatan Rakit (Banjarnegara), Kecamatan Bukateja, Kemangkon dan Tidu di wilayah Purbalingga untuk memperlancar pengiriman tebu ke pabrik.

Puas melihat-lihat area sekitar pabrik gula, penelusuran peninggalan kolonial pun berlanjut ke wilayah bekas gedung Stasiun Klampok. Bangunan stasiun tersebut sudah tidak berbekas lagi.

"Tapi masih ada sisa-sisa rel kereta, beberapa sudah hilang dan mungkin ada yang ditimbun dengan tanah atau semen. Hampir sama kondisinya dengan stasiun Banjarsari," ujar salah satu peserta jelajah, Benita Fidela (20). (suk)

(PU)
  1. Wisata Banyumas
  2. Pabrik Gula
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA