1. JAWA TENGAH
  2. WISATA

Kepala BKPM ingin Jateng garap wisata bahari

"Begitu kembali ke Semarang, kapal pesiarnya bisa keliling lagi ke Jatim, Bali, Labuan Bajo, atau ke Bangka Belitung."

Salah satu kapal pesiar saat berlabuh di Tanjung Emas, Semarang.. ©2016 Merdeka.com Editor : Ibrahim | Jum'at, 24 November 2017 09:33

Merdeka.com, Jawa Tengah - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong mendorong pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah mulai menggarap wisata bahari. Meskipun potensi ekonomi Jateng kuat pada sektor padat karya.

"Ini mungkin masih sedikit yang mengetahui. Pak Presiden (Joko Widodo) akan menggulirkan fokus luar biasa di wisata bahari. Karena ironis Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia, tapi secara praksis kita masih nol," ujar Thomas Lembong, dalam pembukaan gelaran Central Jawa Investment Business Forum (CJIBF) di Hotel Solo Paragon Kota Solo, Kamis (23/11).

Menurut dia, saat ini Indonesia bisa memanfaatkan Singapura yang telah memiliki pelabuhan terbesar di Asia, Marina Bay Cruise Centre Singapore (MBCCS), sebagai tempat bersandar kapal-kapal pesiar berukuran besar. Relevansinya dengan Jateng, Thomas menyebut, jika Semarang memiliki infrastruktur dermaga terbesar serupa tentu potensi wisata baharinya luar biasa.

"Itu kapal pesiar raksasa mampu mengangkut 2.000 - 10.000 penumpang sekali jalan. Bayangkan jika Semarang punya terminal itu. Ribuan wisatawan asing datang, kita siapkan mini event seharian ajak keliling seharian berenang ke Karimunjawa, Borobudur, Prambanan, Solo. Begitu kembali ke Semarang, kapal pesiarnya bisa keliling lagi ke Jatim, Bali, Labuan Bajo, atau ke Bangka Belitung. Presiden sangat serius soal ini dan mau saya gulirkan ke pemda-pemda bahwa wisata bahari akan berkembang 5-10 tahun mendatang," bebernya.

Selain potensi wisata bahari, Thomas menilai, Jateng juga menjadi incaran investor di sektor industri padat karya. Apalagi setelah proyek infrastruktur Bandara di Semarang dan Kulonprogo selesai dibangun, termasuk pembangunan proyek PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Kabupaten Batang yang direncanakan memiliki kapasitas 2x 1.000 mega watt (MW).

"Kita tahu Jateng kuat di sektor padat karya, misal industri makanan dan minuman, perusahaan tembakau atau rokok, mebel dan lain-lain. Di Batang itu ada realisasi investasi proyek PLTU raksasa. Artinya, ke depan pasokan tidak ada masalah dan berlimpah-ruah. Karena, bagaimana mau bangun pabrik kalau enggak ada listrik. Ini salah satu kendala di masa lalu bagi calon investor," ujarnya.

"Apalagi kultur kerja di Jateng ini sangat kondusif dan bahkan terbaik di Indonesia. Selama ini relasi antara buruh dengan perusahaan cukup harmonis. Ini yang sebenarnya sangat dicari oleh para investor," imbuh Thomas.

(I) Laporan: Aditya Putra Wijaya
  1. Pariwisata
  2. Wisata Alam
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA