1. JAWA TENGAH
  2. WISATA

Dari ratusan, 14 benda di Purbalingga dikaji sebagai cagar budaya

"Hasilnya tinggal diserahkan kepada bupati untuk ditetapkan sebagai benda cagar budaya"

Rel kereta uap Serajoedal Stoomtram Maaatschappij (SDS) di Desa Sumilir, Kecamatan Kemangkon, yang belum didaftarkan sebagai benda cagar budaya. ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Kamis, 20 Juli 2017 12:21

Merdeka.com, Jawa Tengah - Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Purbalingga telah mengkaji empat belas benda diduga cagar budaya (BCB) sejak awal tahun 2017. Peninggalan sejarah tersebut segera diusulkan untuk ditetapkan oleh Bupati Purbalingga.

"Dari ratusan benda cagar budaya yang didaftar, ada 14 yang dikaji. Hasilnya tinggal diserahkan kepada bupati untuk ditetapkan sebagai benda cagar budaya" kata TACB Purbalingga, Ganda Kurniawan, Kamis (20/7).

Dia memerinci, beberapa peninggalan sejarah yang termasuk kajian inventarisasi TACB di antaranya rumah dinas bupati, rumah dinas wakil bupati, Susteran Notre Dame, Pendopo Ahmad Dahlan, Masjid Sayyid Kuning, SMPN 1 Purbalingga, SD Kristen Bina Harapan, SMP Borromeus, Tugu Lancip dan lima situs yang berada di Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon.

Dari hasil kegiatan Jelajah Banjoemas "Mrapat" bersama komunitas pecinta sejarah Banjoemas History Heritage Community (BHHC) pekan lalu, TACB juga menemukan sejumlah peninggalan masa kolonial yang belum terdaftar dalam inventarisasi. Pihaknya sudah mengusulkan kepada Tim Pendaftar Cagar Budaya Purbalingga untuk mendata peninggalan tersebut.

"Untuk pekuburan Belanda di Hutan Kota dan SMA Santo Agustinus sudah masuk inventaris cagar budaya. Itu sudah dilindungi Undang-undang Cagar Budaya," ujarnya.

Ganda menambahkan, ada pula temuan lainnya seperti jembatan dan rel kereta uap Serajoedal Stoomtram Maaatschappij (SDS) di Desa Sumilir, Kecamatan Kemangkon, belum didaftarkan. Artinya, jembatan dan rel kereta yang dibangun sekitar abad ke 19 tersebut belum dilindungi oleh Undang-undang.

"Sudah diusulkan untuk mengukur struktur dan letak koordinatnya. Dengan demikian bisa dinaikkan statusnya menjadi benda diduga cagar budaya," jelasnya.

Sementara itu, pegiat BHHC, Jatmiko Wicaksono mengatakan, peninggalan sejarah masa kolonial Belanda di Purbalingga banyak yang tidak berbekas. Contohnya Suikerfabriek (pabrik gula) Bodjong yang sudah menjadi perumahan dan ratusan kilometer rel kereta SDS yang sudah dibongkar.

Tentang makam Belanda (kherkof) di Hutan Kota Purbalingga, dia menuturkan, di pemakaman tersebut tersimpan cerita-cerita unik. Ada seorang guru asal Amerika dimakamkan di sana karena menolong muridnya saat tenggelam di sungai usai menghadiri pesta ulang tahun di tempat les-lesan bahasa Inggris.

"Tempat belajar Bahasa Inggris itu didirikan Gan Thian Koeij. Gan Thian Koeij ini adalah seorang Letnan Tionghoa Purbalingga yang mendirikan pendidikan informal bahasa asing di Purbalingga," tuturnya. (suk-)

(PU)
  1. Cagar Budaya
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA