1. JAWA TENGAH
  2. WISATA

Begini ekspresi "bocah tanpa ibu" saat naik Si Kenang keliling Semarang

"Saya tidak kenal orang itu, dia hanya berkata saya titip anak ini bu, besok saya ambil."

Sumiarsi saat mengajak Ibrahim naik Sikenang, bus pariwisata Kota Semarang, Kamis (19/10). ©2017 Merdeka.com Editor : Ibrahim | Kamis, 19 Oktober 2017 13:46

Merdeka.com, Jawa Tengah - Kamis (19/10), Ibrahim terus melongok keluar bus Sikenang. Dia seakan tak ingin melepas pandangan dari suasana Kota Semarang. Bocah 2,5 tahun itu beberapa kali menunjuk keluar dan merasa takjub dengan keindahan Semarang, terlebih kala melintasi Kota Lama.

Sesekali, Baim, panggilan akrabnya menunjuk dan berbincang dengan ibunya, Sumiarsi Handayani. "Kui opo jenenge bu," tanya Baim kala melihat Warak Ngendog. Sumiarsi pun menerangkan kepada Baim tentang kekayaan budaya dan heritage Semarang. Dia pun bersorak girang saat suara telolet dibunyikan sang driver.

Siang itu Sumiarsi sengaja mengajak Baim menaiki Si Kenang. Baim, jelasnya, adalah anak yang dibuang orangtuanya. Kala itu, pertengahan Oktober 2015 waktu menuju Magrib. Di depan pintu rumah Sumiarsi yang terbuka, ada seorang perempuan dengan empat anak.

"Saya tidak kenal orang itu, dia hanya berkata saya titip anak ini bu, besok saya ambil," katanya menirukan perempuan tersebut.

Hari berganti minggu, bulan pun terus berlalu. Ternyata perempuan itu tak pernah mengambil anak berusia dua bulan yang dititipkan ke Sumiarsi yang beralamat di Lemahgempal 6B/1150 Semarang.

"Saat dititipkan, Baim hanya memakai baju biasa dan selimut. Tidak ada lagi yang lain," ucapnya.

Sumiarsi yang memiliki dua anak kandung, dua-duanya, telah lulus dari Universitas Diponegoro, segera melapor ke RT dan RW. Seiring berjalan waktu, Baim pun dirawatnya seperti anak sendiri.

Dia juga secara administrasi telah masuk dalam keluarga Sumiarsi, yang setiap harinya membuat snack untuk menghidupi keluarganya sepeninggal suaminya yang meninggal tahun 2016.

"Meski tinggal di rumah saya, kadang ada juga tetangga yang memberi susu. Bahasanya, semua sayang Baim dan dia anake wong akeh," tegasnya.

Dia pun menyatakan tak rela jika suatu saat ada yang ingin mengambil Baim. Baginya, orangtua kandung Baim telah berbuat jahat karena tega membuang anaknya. Sumiarsi mengatakan, sengaja mengajak Baim naik bus Si Kenang karena gratis.

"Itung-itung menyenangkan anak, tapi hemat," katanya sembari tersenyum. Bagi Baim, berpetualang keliling Semarang naik bus ini adalah pengalaman pertama kali.

Santoso, awak bus Si Kenang mengatakan, sejak dioperasikan 2 Oktober 2017, bus ini mendapat sambutan positif. "Meski berkapasitas 70 orang, setiap hari banyak yang mengantre," jelasnya.

Si Kenang setiap weekend beroperasi empat putaran. Sementara untuk weekday sebanyak tiga kali dengan rute Museum Mandala Bakti - Kota Lama - Simpanglima - Kampung Pelangi - Kaligarang - Museum Mandala Bakti.

"Dengan jarak sekitar 20 kilometer, waktu perjalanan 2,5 jam. Ini karena di beberapa tempat wisata unggulan kira berhenti selama 15 menit," paparnya.

(I) Laporan: Dian Ade Permana
  1. Pariwisata
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA