1. JAWA TENGAH
  2. WISATA

Begini cara pengelola Kampung Warna Bobotsari kreasikan sampah demi lunasi utang

"Uang tersebut harus dikembalikan dalam jangka waktu satu tahun,"

Kampung Warna Bobotsari, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga. ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Kamis, 12 Oktober 2017 14:54

Merdeka.com, Jawa Tengah - Pengelola Kampung Warna Bobotsari, Kecamatan Bobotsari Purbalingga, mencoba inovasi baru dengan melakukan penggalangan sampah plastik dari masyarakat. Sampah ini rencananya akan dibentuk menjadi hiasan pada salah satu wahana baru yang sedang disiapkan.

Penggagas Kampung Warna, Dona Wahyuni de Fretes mengatakan, sampah-sampah yang dikumpulkan dari masyarakat ini akan dirangkai menjadi hiasan seperti pada wahana Lorong Warna dan Pojok Asmoro. Di tempat tersebut, lengkung dan simbol hati setinggi 1,7 meter dihiasi dengan bunga yang dibuat dari sampah.

"Kami benar-benar membutuhkan sampah seperti kantong, gelas plastik maupun benda plastik berukuran kecil lainnya. Daripada dibuang, ditimbun atau dibakar, lebih baik disumbangkan kepada kami. Tim kreatif nanti yang membuat pernak-pernik hiasan untuk melengkapi wahana yang sedang dibuat," kata Dona, Kamis (12/10).

Menurutnya, sebagian besar wahana yang ada di Kampung Warna tersebut memanfaatkan limbah plastik. Selain kampanye ramah lingkungan, daur ulang sampah juga bertujuan untuk mengurangi volume sampah di lingkungan sekitar.

Dia menuturkan, gagasan untuk membuat Kampung Warna dilakukan sejak Juli 2017 lalu. Kampung ini mengandalkan ornamen berupa lukisan dan cat warna-warni pada dinding, payung yang tergantung di atap rumah serta loket hingga hiasan di jalan. Sejak menjadi kampung warna, tiga RT yaitu 01, 02 dan 03 RW 08 Desa Bobotsari, Kecamatan Bobotsari mulai ramai dikunjungi wisatawan.

Selama 2 bulan terakhir, kata Dona, pengunjung mencapai 7.000 orang. Untuk akhir pekan dan liburan bisa mencapai 500 pengunjung. "Modal awal untuk mewujudkan gagasan Kampung Warna ini sebenarnya berasal dari pinjaman uang kas RW sebesar Rp 10 juta. Uang tersebut harus dikembalikan dalam jangka waktu satu tahun," jelasnya.

Lantaran utang pegiat kampung wisata ini belum lunas, lanjut Dona, tim kreatif harus memutar otak untuk mengembangkan wahana baru. Mereka juga memanfaatkan barang yang tidak memakan biaya terlalu banyak.

Selain tidak menguras biaya, penggunaan sampah plastik juga bisa menjadi media kampanye cinta lingkungan. Hal itu bisa terlihat dari setiap sudut kelokan gang juga terdapat papan yang bertuliskan kalimat-kalimat imbauan untuk menjaga kebersihan.

"Saat ini, kami menyediakan spot khusus berfoto seperti lorong warna, gambar tiga dimensi, gubuk asmoro dan gardu kampung warna. Rata-rata ornamennya juga dibuat dari sampah," tambahnya.

Salah satu pengunjung, Chintya (22) mengaku terkesan dengan ide pembuatan kampung warna tersebut. Menurut dia, desa tersebut tentu diminati oleh kaum muda terutama pelajar. "Untuk yang doyan foto-foto tentu sangat menyukainya. Karena ada ratusan spot foto yang bisa digunakan," ujarnya. (suk)

(PU)
  1. Wisata Purbalingga
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA