1. JAWA TENGAH
  2. WISATA

VIDEO: Menyusur jejak benteng kuno di pulau penjara

Bangunan benteng dua lantai ini nampak sudah hancur, menyatu dengan pohon berukuran cukup besar.

©2016 Merdeka.com Editor : Wisnu Wardhana | Sabtu, 29 Juli 2017 15:01

Jejak peninggalan kolonial Belanda masih bisa ditemukan di pesisir selatan Cilacap. Salah satu buktinya adalah keberadaan dua buah benteng di Pulau Nusakambangan. Pulau Penjara, demikian sebutan yang selalu berhasil meninggalkan kesan seram bagi orang yang ingin mengunjungi pulau ini. Akan tetapi, keunikan dua buah benteng dan keindahan pantai di kawasan tersebut akan membalikkan pandangan selama ini. Berbekal rasa penasaran, pegiat komunitas pecinta sejarah Banjoemas History Heritage Community (BHHC) mencoba menjelajahi peninggalan Belanda ini, dua pekan lalu. Perjalanan dimulai dari Pantai Teluk Penyu. dengan menumpang perahu bercadik untuk menyeberang ke Pulau Nusakambangan.

Di perjalanan, ombak Samudera Hindia yang terasa ganas menjadi tantangan tersendiri. Tetapi, setelah sampai di Pantai Karangtengah, rasa takut sirna karena melihat hamparan pasir putih. Setelah tiba, rombongan langsung bergegas menuju titik pertama yaitu Benteng Klingker yang hanya berjarak 500 meter dari bibir pantai. Penanda untuk masuk ke Benteng Klingker ialah dua buah tugu dengan tinggi sekitar 7 meter. Bangunan benteng dua lantai ini nampak sudah hancur, menyatu dengan pohon berukuran cukup besar. Menurut pengamatan pecinta sejarah dari Komunitas Roemah Toea, Lengkong Sanggar Ginaris, pembuat benteng yang terbuat dari susunan batu bata ada beberapa versi. Versi pertama yaitu Portugis, sedangkan yang kedua adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels.

Susunan tembok dari batu bata sengaja dibangun lebih tebal dan tidak bertulang sama sekali agar tidak mudah rusak saat diserang. Teknologi benteng ini ditemukan pada jaman Renaisans. Benteng ini menggunakan teknologi Martillo Tower diambil dari nama seseorang di Italia. Benteng ini berbentuk lingkaran sehingga arah pandangannya lebih luas untuk mengawasi samudera. Berbeda dengan benteng segi empat yang tidak terlalu leluasa untuk memandang dan juga tembakan meriam terbatas. Puas melihat benteng tersebut, penjelajahan dilanjutkan ke benteng kedua, yakni Benteng Karangbolong. Rombongan kembali harus naik perahu sekitar 10 menit untuk mencapai pantai Karangbolong. Sesampainya di pintu gerbang benteng, kesan angker sudah terasa. Dari beberapa versi Benteng Karang Bolong disebut didirikan oleh Portugis pada tahun 1825. Ada pula yang menyebut sekitar tahun 1837- 1855.

Benteng ini terdiri atas beberapa bangunan yang tersebar, yakni ruangan barak prajurit, ruang tahanan, ruangan logistik, bangunan pengintai, gudang amunisi, tempat meriam, aula dan ruang absen untuk para prajurit Belanda. Di bagian luar benteng terdapat meriam berwarna hitam tampak yang sengaja dibiarkan teronggok. Kedua meriam itu menghadap Samudera Hindia, bukti bahwa Portugis memang menjadikan benteng ini sebagai pertahanan laut. Bangunan yang terbuat dari batu bata berlapis aspal ini masih terlihat sangat kokoh. Hanya saja, sebagian besar bangunannya terlilit akar pohon yang banyak terdapat di seputaran benteng. Dari segi arsitektur, kedua bangunan ini memiliki keunikannya dan karakteristik masing-masing. Seperti tekstur bangunan yang melengkung, penataan bata merah, pembuat hingga masa pembangunannya.

©2016 Merdeka.com
(WW)
  1. Pariwisata
  2. Cilacap
  3. Video Merdeka
  4. Sejarah
  5. Bangunan Kuno
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA