1. JAWA TENGAH
  2. UKM

Kerajinan ini berbahan kain perca dan pewarna alami

" ... sisa pakaian yang kami buat berupa kain perca kita manfaatkan lagi menjadi berbagai barang kerajinan lain.”

Hasil kerajinan dari kain perca.. ©2016 Merdeka.com Editor : Ibrahim | Sabtu, 12 Agustus 2017 18:09

Merdeka.com, Jawa Tengah - Terlalu sayang jika dibuang. Bermodal ungkapan itulah ide awal Gerai Batik Mbako di Jalan Brigjend Katamso nomor 4 Lingkungan Suronatan Kelurahan Temanggung II Kecamatan/Kabupaten Temanggung.

Pemilik gerai, Iman Nugroho mengaku bahwa dirinya sengaja memanfaatkan sisa produksi pakaian batik yang awalnya tidak memiliki nilai jual dengan menciptakan berbagai bentuk kerajinan baru.

Mulai daster untuk kaum hawa yang dijual dengan harga Rp 90 sampai Rp 120 ribu, tas jinjing Rp 120 sampai Rp 150 ribu, tempat tisu Rp 20 sampai Rp 25 ribu, dompet unik rata-rata Rp 15 ribu, bros berbentuk bunga Rp 5 ribuan, pasmina Rp 75 ribu, hingga jilbab atau kerudung dengan patokan harga tak kalah murah, Rp 50 ribu per helai.

“Kami memang memproduksi batik dengan motif-motif khas Temanggungan. Nah, sisa pakaian yang kami buat berupa kain perca kita manfaatkan lagi menjadi berbagai barang kerajinan lain,” jelasnya.

Kain perca
© 2017 jateng.merdeka.com/Rizal Ivan

 

Untuk masalah kualitas, tak perlu kuatir. Pasalnya, barang-barang tersebut dijamin tak bakal mengecewakan konsumen. Motif, corak, dan warna yang dihasilkan juga sama persis dengan baju batik yang terpajang di gerai tersebut.

Lanjutnya, terdapat puluhan motif batik khas yang ia ciptakan. Antara lain daun tembakau, srintil, keranjang, matahari, kopi, hingga Gunung Sumbing dan Sindoro.

Sedangkan untuk masalah warna, batik ini memiliki ciri khas kombinasi yang mencolok. Hal ini dikarenakan saat proses produksi, Iman menggunakan dua bahan warna dasar dan metode berbeda.

Ada pewarna sintetis kimia, ada pula yang menggunakan pewarna alami yang dihasilkan dari ekstrak kulit nangka, kayu secang, kayu jatilawe, daun teh, dan kulit rambutan.

Teknik pewarnaannya pun terbagi atas tulis dan cap. Tentu, batik dengan bahan alami memiliki harga yang lebih mahal dari batik dengan pewarna kimia.

“Sayang kalau kain perca kami buang, karena dengan sedikit inovasi mampu tercipta lagi berbagai kerajinan baru yang bermanfaat dan bernilai ekonomis tinggi tentunya,” tukasnya.

(I) Laporan: Rizal Ifan Chanaris
  1. Home Industri
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA