1. JAWA TENGAH
  2. UKM

Genteng sokka Kebumen terpuruk, begini solusi Ganjar

"Kondisi yang dialami serupa, ini adalah masalah bersama,"

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat berkunjung ke sentra produksi genteng Sokka di Kebumen. ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Kamis, 14 September 2017 10:44

Merdeka.com, Jawa Tengah - Kedatangan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menemui perajin genteng Sokka Kebumen diharapkan menjadi angin segar untuk kembali menghidupkan industri tersebut. Menurut sejumlah perajin, meski masih bertahan tapi hampir semua perajin genteng dalam kondisi kolaps.

Padahal sebelumnya, genteng sokka yang diproduksi sejak zaman Belanda ini pernah meraih kejayaan. Kala itu, genteng yang dipuji karena kualitasnya yang unggul juga sempat di ekspor hingga ke negeri Belanda.

Salah satu perajin Muh Khozin mengatakan ia yang merupakan generasi ketiga sudah memproduksi genteng sokka sejak tahun 1991. "Setiap bulan produksi sekitar 20 ribu genteng dengan 20 pekerja. Pekerjaan semi manual dan 60 persen hasil produksi dijual di wilayah DIY," jelasnya saat berdialog dengan Ganjar Pranowo, Rabu (13/9). Sebelumnya, produksi gentengnya bisa mencapai 30 ribu per bulan.

Khozin berharap Ganjar bisa memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang menjerat perajin genteng. "Harapannya, ide-ide dan solusi dari Gubernur bisa mengeluarkan kami dari masalah yang ada," terangnya. Diakuinya sejak 2016 permasalahan yang dihadapi semakin kompleks sehingga banyak pengusaha genteng yang resah dan terpaksa gulung tikar.

Persoalan tersebut di antaranya adalah bahan baku yang hanya bisa diambil kala kemarau. Kalau pun ada tanah yang diambil, posisinya sulit sehingga biaya produksi membengkak. "Sempat ada ide mengambil tanah gunung, tapi tentu perlu penelitian dulu apakah kandungannya sesuai untuk kebutuhan membuat genteng," ucapnya.

Permasalahan lainnya yakni tenaga kerja yang tidak bisa dimaksimalkan karena kebanyakan pekerjanya adalah ibu rumah tangga tangga yang nyambi dengan pekerjaan rumah. Untuk masalah pemasaran, adalah adanya produk sejenis dari daerah lain serta produk modern yang harganya lebih murah dan praktis dalam pemasangannya.

Sementara Suwarto, Ketua RW 3 Kedawung berharap agar Ganjar mengoneksikan perajin dengan sekolah atau universitas seni. Dia berharap agar dengan adanya sinergi dengan lembaga pendidikan yang beraliran seni, mampu mengolah tanah menjadi barang yang berharga. "Selama ini hanya membuat genteng, dengan sentuhan seni kan harga barang menjadi lebih mahal dan unik sehingga menarik," paparnya.

Ardani, ketua koperasi perajin genteng dari Kecamatan Sruweng mengatakan, dari sekitar 350 perajin, hanya 25 yang bergabung dalam koperasi. "Kami setuju dengan ide pak Ganjar dalam membuat koperasi agar ada ketahanan dan kesamaan harga. Namun sangat sulit menumbuhkan kesadaran karena selama ini cenderung bergerak sendiri," ungkapnya. Diakuinya, perajin dalam kondisi kolaps karena modal yang menipis sementara pemasaran sangat sulit. Dalam satu putaran produksi genteng, membutuhkan dana setidaknya Rp 30 juta.

"Kami juga meminta ada pendampingan menyeluruh dari pemerintah terkait produk yang sesuai mutu nasional SNI dan agar genteng Sokka bisa memiliki paten," kata Ardani. Dia menilai saat ini perhatian pemerintah mulai ada meski belum maksimal. Perhatian tersebut di antaranya ada kontrak dengan Pemerintah Kabupaten Kebumen saat ada pembangunan menggunakan produk lokal. Untuk harga, Ardani mengatakan tipe Morando Rp 2.450, Kodok Rp 1.450, Magas Rp 1.450, dan Palentong Rp 1.250.

Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Ganjar Pranowo menyampaikan industri genteng sebenarnya mampu menggerakkan perekonomian. "Yang perlu dilakukan saat ini adalah penguatan kelembagaan dan penggunaan teknologi yang modern," jelasnya. Dia juga meminta agar perajin yang dikirim ke Jepang bisa sharing ilmu kepada perajin lain termasuk ke pemerintah.

Ganjar menyampaikan, perajin genteng harus bersatu agar memiliki bargaining serta mampu memecahkan masalah bersama. "Kondisi yang dialami serupa, ini adalah masalah bersama. Salah satu cara perajin bisa membuat koperasi. Jika saat ini di Kebumen ada sekitar 1000 perajin, koperasi harus memiliki anggota minimal 500 perajin," terangnya. Dengan cara tersebut Ganjar siap memfasilitasi pertemuan dengan Real Estate Indonesia (REI), tujuannya untuk memasarkan genteng Sokka agar dipakai proyek pembangunan perumahan.

Selain itu, Ganjar juga berharap agar perajin mengembangkan produknya meski menggunakan bahan yang sama. "Bisa meniru Kasongan di Bantul yang menjadi sentra gerabah. Atau meniru perajin keramik di Boyolali yang memiliki ciri khas. Harga patungnya mencapai Rp 1,5 juta dan itu sangat indah," paparnya.

Yang tak kalah penting, imbuhnya, paguyuban perajin genteng harus menggandeng perguruan tinggi untuk mengadakan riset mengenai kualitas bahan baku. "Modernisasi itu penting untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, mulai dari pemilihan bahan, saat pembuatan, hingga standarisasi produk," paparnya. Ganjar juga menyambut baik rencana penggunaan bahan dari sedimentasi di Waduk Sempor.

 

(PU) Laporan: Dian Ade Permana
  1. Kunjungan Gubernur
  2. Kebumen
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA