1. JAWA TENGAH
  2. SENI

Suara perdamaian untuk Rohingya lewat mural di pelataran Monumen Juang 45

"...menunjukkan tidak siapnya keberagaman dan perbedaan untuk perdamaian dunia. Ini mencederai nilai- nilai kemanusiaan...,"

Lukisan- lukisan mural yang menggambarkan tragedi kemanusiaan Rohingya di Myanmar dalam pameran seni kontemporer Klaten Biennale . ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Selasa, 12 September 2017 09:59

Merdeka.com, Jawa Tengah - Aksi solidaritas peduli Rohingya di Myanmar terus mengalir dari berbagai kalangan. Di Klaten, sejumlah seniman jalanan atau street art menyuarakan perdamaian melalui lukisan mural di pelataran Monumen Juang 45 Klaten.

Menurut salah seorang pelukis, Temanku Lima Benua (15), menyuarakan pesan perdamaian tidak hanya melulu aksi turun ke jalan dengan pidato menggebu-gebu. Melalui ajang pameran seni rupa kontemporer "Klaten Biennale", pihaknya menyerukan perdamaian di muka bumi, terutama untuk tragedi kemanusiaan yang terjadi di Myanmar.

Sebab, lanjut perempuan yang akrab disapa Liben tersebut, Klaten Biennale yang berlangsung 11-18 September sejatinya digelar untuk mengenang dan menghormati tragedi serangan gedung kembar World Trace center (WTC) di New York pada 11 September 2001 silam. Namun di era sekarang, kejadian tragedi kemanusiaan serupa kembali terjadi dan menimpa etnis Rohingya di Myanmar.

"Baik serangan gedung kembar WTC maupun tragedi kemanusiaan Rohingya menunjukkan tidak siapnya keberagaman dan perbedaan untuk perdamaian dunia. Ini mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Nah, kalau Indonesia juga tidak siap merawat keberagaman, bisa- bisa kejadian di Rohingya juga merembet ke Indonesia," ujar Liben, yang juga Direktur Klaten Biennale, kemarin.

Hal senada juga disampaikan pelukis lainnya, Mei Tika Candra Latifa (23) asal Desa Karangjoho, Kecamatan Karangdowo. Ditemui usai menyelesaikan lukisannya, ia mengaku menggoreskan visual berupa tubuh manusia dengan kepala di bawah atau terbalik yang dicengkeram tangan raksasa kekuasaan.

"Sebenarnya lebih ke arah naluri manusia tentang hak dan kewajiban yang direnggut. Penderitaan orang Rohingya ini kayak teh celup dan kulit bundar atau bola sepak. Mereka ditendang- tendang, diusir ke sana ke sini, dengan nyawa sebagai taruhannya. Saya berharap, konflik tersebut segera berakhir dan manusia bisa hidup damai,"
harapnya.

(PU) Laporan: Aditya Putra Wijaya
  1. Aksi Solidaritas
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA