1. JAWA TENGAH
  2. SENI

Menilik kirab seribu tumpeng pada malam selikuran di Keraton Surakarta

"Saat ini mencoba kembali ke zaman PB X. Rute diubah langsung menuju Joglo Sriwedari, tanpa berhenti di Masjid Agung,"

Sebanyak seribu tumpeng wujud didoakan di Joglo Taman Sriwedari sebagai puncak kirab malem selikuran Keraton Surakarta. ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Jum'at, 16 Juni 2017 09:25

Merdeka.com, Jawa Tengah - Menyambut Lailatul Qadar, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar kirab seribu tumpeng, Kamis (15/6) malam. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tradisi turun temurun pada malam ke 21 bulan Ramadan atau dikenal "Malem Selikuran" itu berakhir di Taman Sriwedari.

Dimulai sekitar pukul 20.10 WIB, puluhan kotak kayu yang berisi seribu tumpeng diarak ratusan orang sentana, abdi dalem, hingga petinggi keraton itu dilepas KPH Adipati Sosronegoro dari Kori Kamandungan kompleks keraton. Dengan dikawal pasukan Bregodo bersenjatakan tombak serta tetabuhan marching band bernyalakan terang petromak dan ting, kirab yang menempuh jarak sekitar 1,5 kilometer itu melintasi Masjid Agung, bundaran Gladag, dan finish di Joglo Taman Sriwedari.

Pejabat Humas Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KP Bambang Ary Pradotonagoro menjelaskan, pada masa kekuasaan Sri Susuhunan Pakubuwana (PB) X kirab untuk memperingati peristiwa turunnya Nabi Muhamad SAW dari Jabal Nur setelah menerima wahyu Laitul Qadar itu digelar dari kompleks keraton hingga Bon Raja atau yang kini dikenal sebagai Taman Sriwedari. Namun seiring perkembangan zaman dan riak konflik internal, berakhir di Masjid Agung keraton.

"Saat ini mencoba kembali ke zaman PB X. Rute diubah langsung menuju Joglo Sriwedari, tanpa berhenti di Masjid Agung. Apalagi saat Pemkot menyelenggarakan sendiri, dan keraton juga sendiri, pernah bergantian tujuan akhirnya. Semua tergantung dari dawuh Sinuhun. Tahun depan mungkin saja Sinuhun dawuh bisa langsung ke Masjid Agung. Namun yang pasti tahun ini keraton ingin menyampaikan banyak syukur atas kelimpahanNya," jelasnya.

Dipaparkan, kirab seribu tumpeng memiliki makna filosofis limpahan pahala setara seribu bulan bagi umat Islam yang beribadah pada malam ganjil, tepatnya 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Secara khusus, wujud syukur Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat lewat tumpeng itulah yang dibagikan kepada masyarakat.

"Malam seribu bulan atau selikuran ini dulunya juga dikenal masyarakat sebagai kirab 'Ting Ting Hik'. Karena dulu waktu masih belum ada listrik, banyak abdi dalem yang membawa lampu Ting sebagai penerangan. Sedangkan 'Hik' sendiri itu artinya makanan. Bedanya dengan Lailatul Qadar di tempat lain, keraton mengucapkan syukur kepada Tuhan dengan membagikan seribu tumpeng," papar Bambang.

Tiba di Taman Sriwedari, rombongan disambut oleh ratusan orang dan perwakilan Pemkot Surakarta. Selanjutnya nasi tumpeng yang berjumlah seribu buah tersebut didoakan di dalam Joglo Sriwedari sekaligus pembacaan sejarah malem selikuran yang dimulai sejak zaman Wali Songo tersebut. 

(PU) Laporan: Aditya Putra Wijaya
  1. Keraton Surakarta
  2. Tradisi
  3. Ramadan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA