1. JAWA TENGAH
  2. SENI

Era digital, jalan bagi komikus untuk berkarya lebih terbuka lebar

"...Jadi, sekarang ini jalannya banyak, tapi lawannya ya penikmatnya itu sendiri...,"

Komik strip berjudul Sebelum Nikah yang diunggah Suryono melalui akun instagram untuk kemudian dibikin format cetak. ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Kamis, 14 September 2017 13:14

Merdeka.com, Jawa Tengah - Pesatnya laju teknologi digital dan internet membuka jalan bagi tiap komikus Indonesia. Bermodal ponsel pintar dan kuota internet, para komikus berlomba- lomba memajang karyanya lewat akun media sosial (medsos).

Menurut Suryono, Sekretaris Ikatan Komikus Solo (Ikilo), di era digital seperti sekarang terbuka lebar jalan bagi para komikus mengomersialkan karyanya tanpa menunggu penerbit. Salah satunya berkreasi melalui platform komik digital Line Webtoon.

"Di era digital lebih mudah. Mulai dari pemula, semua bisa ikut challenge berhadiah seperti di Line Webtoon ketimbang menunggu royalti. Genre dan style apapun masuk, asalkan mempunyai konten ide cerita yang segar dekat dengan kehidupan sehari-hari dan kritik sosial," ujarnya, kemarin.

Selain ikut kompetisi, lanjut pemuda berusia 27 tahun ini, komikus bisa memajang karyanya melalui Instagram. Jika komik strip tersebut digemari, tentu akan menyedot banyak akun followers. Dampaknya, komikus akan menerima order menggambar, hingga meraup penghasilan melalui iklan serta endorse produk tertentu.

"Komik strip lebih ke digital, dipajang di Instagram secara berkala. Biasanya followers akan menunggu cerita kelanjutannya. Jadi, sekarang ini jalannya banyak, tapi lawannya ya penikmatnya itu sendiri. Kalau karyanya ada yang mirip atau adaptasi dari karya orang lain, pasti yang komentar pedas-pedas," ujar pemilik akun Instagram @suryo_pct ini.

Ditanya apakah komik digital menggusur komik cetak, Suryono berpendapat, saling melengkapi layaknya sisi uang logam. Sebab, banyak komikus yang mencetak sendiri hasil kumpulan karyanya di medsos untuk kemudian kembali dikomersilkan secara online maupun mengikuti sejumlah festival seperti Comic Fest ID atau Popcon Asia.

"Di komunitas Ikilo mayoritas mengomersialkan komiknya dalam bentuk cetak. Bahkan ada karya tiga anggota yang sudah masuk penerbit besar. Selain itu, juga ada komunitas Solo Comic Strip (Somicstrip) yang mayoritas mengomersialkan komiknya melalui medsos. Jadi komik strip maupun cetak itu saling melengkapi," paparnya.

Kreator komik Executor asal Sukoharjo, Lolo Biru menambahkan, potensi pasar komik di Indonesia sangat besar. Meskipun masih butuh perjuangan, terbukti dengan masih dipajangnya komik-komik terjemahan di setiap toko buku. Maka, komikus juga penting untuk berjejaring.

"Di Indonesia, animasi seperti Sopo Jarwo sudah meningkat. Salah satu kekurangannya, bagaimana kalau animator secara konten berkolaborasi cross platform dengan komikus. Contohnya Doraemon yang kuat karena awalnya komik. Selain itu, kalau menjual komik juga harus menjual merchandise untuk meringankan beban promosi dan modal cetak. Karena yang paling berat itu promosi. Jadi penting memperkenalkan ke publik lewat medsos," pungkas pendiri Supermoon Comics yang terkenal dengan komik-komik superhero seperti Biru, Ayu Srikandi, Agent Patriot, dan Gatotkacareo ini.

(PU) Laporan: Aditya Putra Wijaya
  1. Komik
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA