1. JAWA TENGAH
  2. SENI

Buku Gubernur Jelata meluncur di Candi Gunung Wukir

Peluncuran buku ditandai tarian puluhan penari Komunitas Lima Gunung, monolog Landung Simatupang, serta orasi Bhre Redhana dan Tanto Mendut.

©2016 Merdeka.com Reporter : Anton Sudibyo | Minggu, 18 Desember 2016 00:38

Merdeka.com, Jawa Tengah - Satu lagi buku dengan protagonis Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meluncur ke publik, Sabtu (17/12). Buku berjudul Gubernur Jelata ini adalah karya Agus Sunandar, pekerja seni asal Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Berbeda dengan buku sebelumnya yang berjudul Kontroversi Ganjar yang serius, Gubernur Jelata lebih cair. Buku setebal 227 halaman ini membeberkan cerita-cerita lucu, unik, dan “gila” dari seorang Ganjar Pranowo.

“Mas Ganjar ini unik, banyak ceritanya yang lucu, bahkan gila. Mungkin memang inilah yang dibutuhkan zamannya. Sekarang ini zaman edan, maka pemimpinnya harus edan pula,” kata penulis yang juga dikenal dengan Agus Becak ini dalam sambutan.

Karena menganggap Ganjar sebagai gubernur yang tak biasa itulah, Agus mengemas peluncuran bukunya dengan acara yang tak biasa pula. Gubernur Jelata diluncurkan di Kawasan Candi Gunung Wukir, Dusun Carikan, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang.

Dari titik kumpul di Dusun Carikan, seluruh tamu dan pengisi acara, termasuk Ganjar Pranowo harus berjalan dengan medan menanjak sejauh 500 meter. Hujan deras sepanjang acara membuat jalan setapak itu menjadi berlumpur dan sangat licin. Walhasil, ketika turun, Ganjar sempat tergelincir jatuh yang mengakibatkan baju dan celananya penuh lumpur.

Meski hujan dan medannya berat, namun sama sekali tidak mengurangi antusiasme hadirin. Ratusan orang rela berbasah-basah dan ngos-ngosan naik menuju lokasi acara.

Peluncuran buku terbitan Galang Press itu dikemas dalam sebuah pesta kebudayaan yang digagas Komunitas Lima Gunung Magelang. Sebuah repertoar bertajuk ”Jejak Ratu Adil Ragam Hayati" dipentaskan. Ini adalah kerja kolaborasi teater, musik, tari, sastra, seni rupa, dan situs prasasti canggal.

Sebelum itu, acara lebih dulu dibuka dengan monolog Landung Simatupang. Teaterawan itu mengambil materi dari salah satu tulisan dalam buku Gubernur Jelata, berjudul “Maaf Untuk Brexit”.

Setelahnya, giliran orasi budaya dari Sastrawan Bhre Redhana. “Saya asal Salatiga jadi sebenarnya juga rakyatnya Mas Ganjar. Baru kali ini ada buku diluncurkan di Gunung Wukir. Nantinya buku ini akan dicari orang seperti orang ramai menziarahi candi ini,” kata Bhre.

Tak mau ketinggalan. Sastrawan asal Semarang, Triyanto Triwikromo turut tampil membacakan puisi berjudul “Memotong Tangan Ketidakadilan”.

Prosesi ditutup dengan orasi Tanto Mendut tentang pentingnya situs Gunung Wukir. Menurutnya, masyarakat harus tahu dan menghormati Gunung Wukir sebagai leluhur Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Ganjar Pranowo mengapresiasi kejelian Agus Becak yang memperhatikan hal-hal kecil dari dirinya. "Pelajarannya adalah saya sebenarnya orang biasa yang bisa melakukan hal-hal sebagaimana manusia umumnya. Saya Gubernur tapi saya juga orang biasa, saya bisa marah, bisa tersenyum, bisa dlosoran dengan mereka,” katanya.

Ganjar menilai, buku "Gubernur Jelata" ini juga menunjukkan sisi kekurangan dari sosok Ganjar Pranowo dalam mengemban tugas sebagai Gubernur Jawa Tengah. "Mudah-mudahan dengan buku ini, masyarakat bisa melihat sisi manusia dari seorang Ganjar Pranowo yang biasa-biasa saja," katanya.

(AS/AS)
  1. Pariwisata
  2. Ganjar Pranowo
  3. Candi Borobudur
  4. Candi Jawa tengah
  5. Wisata Candi
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA