1. JAWA TENGAH
  2. SENI

Banjir dalang, Klaten justru sepi perajin wayang

" ... jumlah penatah tinggal lima orang, sedangkan sungging 15 orang.... "

Salah seorang penatah wayang kulit Klaten menunjukkan perbedaan corak tatah dua wayang dengan tokoh Arjuna. ©2016 Merdeka.com Editor : Ibrahim | Senin, 11 September 2017 18:36

Merdeka.com, Jawa Tengah - Klaten dikenal sebagai gudangnya dalang pertunjukan wayang kulit. Namun siapa sangka, para perajin warisan kebudayaan Jawa yang keberadaannya telah diakui oleh UNESCO ini terancam punah lantaran minimnya regenerasi.

Menurut Suluh Juliarsah, Ketua Seniman Muda Klaten Club (SMKC), berdasarkan catatan Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Klaten, jumlah pedalang di Klaten saat ini sebanyak 267 dalang. Sebaliknya, lanjut dia, perajin tatah sungging (ukir dan lukis) wayang kulit di Klaten semakin tahun semakin merosot.

Padahal, lanjut dia, sejak dulu seni pedalangan dan perajin wayang kulit telah diakui para raja Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta. Hal itu dia ungkapkan disela kegiatan "Pameran dan Sarasehan Wayang Kulit Klaten Kota Wayang Masa Lampau, Masa Kini, dan Masa Depan" di Gedung Sunan Pandanaran RSPD Klaten, Senin (11/9).

"Dulu di Klaten banyak empu perajin wayang yang cukup ternama dan karyanya dipakai raja-raja keraton Solo maupun Jogja. Tapi sekarang sudah banyak yang meninggal, sementara regenerasi mandek. Dari penelusuran kami, jumlah penatah tinggal lima orang, sedangkan sungging 15 orang. Jauh dari jumlah pedalangnya," ujar Suluh.

Ditanya penyebab mandeknya regenerasi, dia menilai, faktor ciri khas wayang Klatenan (gaya Klaten) dianggap memiliki karakteristik yang rumit dan luwes. Tak heran, begitu para empu telah meninggal, para pedalang Klaten lari memesan wayang ke Sukoharjo dan Wonogiri.

"Khazanah wayang Klatenan sangat beragam dan spesifikasinya tergantung sang empu. Ada Ki Gondo Suwiryan, Ki Cermo Jimbung yang Halus, Ki Cermo Manggisan, gaya Jombor, dan sebagainya. Detail seperti lubang mata, mulut di raut wajah wayangnya sangat berkarakter," beber Suluh, Sarjana Seni Rupa yang tengah menempuh studi S2 di UGM Jogja.

Hal senada juga dikatakan Danar Setyoko, penatah wayang asal Desa Kepanjen, Delanggu. Ia menyebut, para perajin wayang Klaten kurang dibekali pengetahuan tatah sungging gaya Klatenan.

"Kendalanya si penatah kurang pembelajaran gaya Klatenan yang banyak sekali ragamnya. Yang terjadi di perajin, 'isoku ngene, hasile yo ngene iki. Ra gelem yo wis'. (Bisanya seperti ini, enggak mau ya sudah). Enggak mengerti coraknya. Padahal raut wajah wayang Klatenan itu hidungnya luwes ramping, bibir ngecik seperti isi buah sawo," katanya seraya menunjukkan dua wayang tokoh Arjuna yang memiliki perbedaan di bagian emosional raut wajahnya.

(I) Laporan: Aditya Putra Wijaya
  1. Kesenian
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA