1. JAWA TENGAH
  2. PERTANIAN

Ganjar: Bangsa kita adalah bangsa tempe

"Maka kita bisa menjadi bangsa tempe karena dengan tempe kita akan kuasai dunia dengan berbagai produk unggulan berbahan baku kedelai,”

©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Kamis, 30 November 2017 14:30

Merdeka.com, Jawa Tengah - “Kalau Bung Karno menyatakan Bangsa Kita Bukan Bangsa Tempe, sekarang dibalik dan menjadi Bangsa Kita Adalah Bangsa Tempe, Bangsa Kedelai,” ungkap Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada acara Expo Grobogan Ekonomi Kreatif, di Grobogan Kamis (30/11/2017).

Maksud dari pernyataan Ganjar tersebut untuk menyatakan bahwa memang hasil kedelai dan olahannya di Indonesia ini sangatlah besar khususnya di Jawa Tengah. Bahkan komoditas kedelai dari Jateng bukan hanya diakui secara nasional melainkan sudah diakui dunia.

“Kedelai kita punya potensi besar. Maka kita bisa menjadi bangsa tempe karena dengan tempe kita akan kuasai dunia dengan berbagai produk unggulan berbahan baku kedelai,” tandasnya.

Salah satu keunggulan komoditas kedelai asal Jateng yakni non GMO (Genetically Modified Organism) atau kedelai tanpa rekayasa genetika sehingga jelas sehat dan aman untuk dikonsumsi. Kualitas kedelai yang bagus ini membuat Kementerian Pertanian meminta Jateng untuk meningkatkan komoditas dengan menambah wilayah pertanian.

Selain itu, Jateng juga diharapkan bisa menjadi brand kedelai nasional dan internasional. “Kualitasnya memang unggul, ini sudah diakui. Makanya produksi kedelai ini akan terus digenjot dengan menambah wilayah penghasil kedelai,” tambahnya.

Selain Grobogan, daerah yang dikembangkan agar bisa menjadi sentra komoditas kedelai yakni Kabupaten Purworejo dan Kebumen. Ganjar menyatakan akan menggandeng Perhutani dalam pembukaan lahan untuk bisa ditanami kedelai. Sebab lahan garapan di Jateng memang masih luas.

Tak hanya menjadi penghasil kedelai mentah dengan kualitas unggul, Ganjar juga mengaku menginginkan adanya nilai tambah pada komoditas ini. Seperti halnya diolah menjadi aneka makanan dengan nilai jual yang lebih tinggi dengan pemasaran global.

“Jadi memang dituntut harus kreatif, bukan hanya jual kedelai mentah, tapi juga menjadi tempe dan tahu dengan aneka olahan dan kemasan yang bagus. Bisa juga diolah menjadi brownies tempe, keripik tempe, proll kedelai, susu kedelai atau juga olahan-olahan lain yang menarik,” terangnya.

Bupati Grobogan Sri Sumarni menyatakan komoditas kedelai asal Grobogan memang sudah diakui memiliki kualitas yang unggul. Sebab semua petani kedelai di Grobogan sudah diberikan pendidikan untuk menanam kedelai yang sehat dan berkualitas.

Saat ini ungkapnya sudah ada puluhan ribu hektar lahan yang ditanami kedelai dan masih akan terus ditambah. “Targetnya 100 ribu hektare lahan ditanami varietas kedelai,” katanya.

Untuk mempromosikan komoditas kedelai lokal, Kabupaten Grobogan melakukan pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) dengan membuat tempe terbesar berukuran 7 x 10 meter dan ketebalan 4 cm. Tempe terbesar ini dibuat dengan bahan baku kedelai lokal sebanyak dua ton dengan masa fermentasi selama dua hari.

(PU)
  1. Hasil Pertanian Jateng
  2. Grobogan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA