1. JAWA TENGAH
  2. PERTANIAN

Begini sistem kerja dan bagi hasil petani kopi dan Perhutani Temanggung

"...memberikan keuntungan bagi ke dua belah pihak. Konservasi hutan jalan dan masyarakat..."

©2016 Merdeka.com Editor : Ibrahim | Kamis, 30 November 2017 12:48

Merdeka.com, Jawa Tengah - Sedikitnya 295 hektare kawasan hutan milik Perum Perhutani Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Temanggung telah ditanami kopi oleh masyarakat sekitar wilayah tersebut.

Asisten Perhutani (Asper) Temanggung, Yudi Noviar mengatakan, dalam upaya budi daya tanaman kopi di kawasan hutan tersebut pihaknya menjalin kerja sama dengan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH).

Dijelaskan, kawasan hutan yang ditanam kopi tersebut antara lain Resor Pemangku Hutan (RPH) Kecepit seluas 13 hektare, RPH Kwadungan 69 hektare, dan RPH Jumprit seluas 213 hektare.

“Kerjasama yang dilakukan Perhutani dan LMDH adalah dengan menggunakan sistem bagi hasil. Prosentasenya 30 berbanding 70 persen,” jelasnya.

Ia menyebut, jatah luasan lahan yang digarap oleh masing-masing petani antara 0,1 hingga 0,25 hektare. Dengan kata lain, untuk menggarap lahan tanam kopi seluas 295 hektare tersebut dilibatkan sekitar 1.200 orang atau lebih.

“Sejauh ini tanaman kopi yang dibudidayakan oleh petani di kawasan hutan adalah jenis arabika. Hal ini dikarenakan kawasan hutan milik Perhutani di Temanggung berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan air laut sehingga cocok untuk jenis tersebut,” imbuhnya.

Ia membeberkan hasil panen kopi tahun ini, BKPH Temanggung mendapat bagian sekitar 1,9 ton biji kopi kering. Jumlah ini menurun dibanding tahun lalu yang mencapai 2,6 ton biji kopi kering.

“Sistem penanaman kopi di kawasan hutan seperti ini memberikan keuntungan bagi ke dua belah pihak. Konservasi hutan jalan dan masyarakat (petani) juga memperoleh keuntungan,” pungkasnya.

(I) Laporan: Rizal Ifan Chanaris
  1. Kopi Temanggung
  2. Kopi
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA