1. JAWA TENGAH
  2. PERTANIAN

Badan usaha pertanian dinilai jadi salah satu cara sejahterakan petani

"Dengan adanya badan usaha tersebut maka produksi pertanian bisa terdeteksi, ini berkembang atau tidak,"

Temu Penyuluh Pertanian 'Korporasi Untuk Kesejahteraan Petani' di Hotel Patra Jasa, Selasa (10/10). ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Selasa, 10 Oktober 2017 15:36

Merdeka.com, Jawa Tengah - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mendorong terbentuknya korporasi atau badan usaha yang berasal dari petani. Minimal, ada satu badan usaha di tingkat kabupaten atau kota. Badan usaha tersebut bisa berbentuk koperasi, CV, atau perseroan terbatas (PT).

Ganjar mengatakan badan usaha sangat penting untuk memertahankan usaha di bidang pertanian. Alasannya, saat ini lahan pertanian terus berkurang luasannya dan alih fungsi lahan terus terjadi. "Dengan adanya badan usaha tersebut maka produksi pertanian bisa terdeteksi, ini berkembang atau tidak," jelasnya dalam acara Temu Penyuluh Pertanian 'Korporasi Untuk Kesejahteraan Petani' di Hotel Patra Jasa, Selasa (10/10).

"Pemerintah siap mendampingi badan usaha tersebut. Bisa dimulai dengan memproduksi komoditas unggulan, packaging yang bagus, dijual dengan cara-cara modern," terang Ganjar. Soal permodalan pun, lanjutnya, tidak perlu dirisaukan karena badan usaha tersebut bisa mengakses ke perbankan.

Ganjar mengungkapkan jika dalam satu kelompok tani minimal ada 20 hingga 25 orang, maka setidaknya dalam kelompok tersebut bisa memiliki modal hingga Rp 250 juta. "Satu petani pinjam di perbankan, misal di Bank Jateng yang ada program Mitra Jateng 25, uang Rp 10 juta dan dikumpulkan dikelola bersama itu kan sudah bisa untuk menyokong badan usahanya," paparnya. Sementara bantuan langsung dari pemerintah bisa berupa alat kerja, pendampingan, dan modal bergulir.

Dicontohkan, intensifikasi atau penambahan nilai jual pada beras. Harga gabah kering panen dijual Rp 3.700 dan harga gabah kering giling kisaran Rp 5.100. "Nah, persoalan itu kan bikin kita berpikir bagaimana agar harganya pantas. Mungkin kita bisa mulai dengan mempercantik packaging, memberi brand, kenalkan produk organik, distribusi baik, pasar yang baik," kata Ganjar. Dia pun berharap agar petani mulai memanfaatkan pasar online, salah satunya yang difasilitasi Pemprov Jateng di regopantes.com.

Contoh lain adalah pengolahan cabai. Jika panen melimpah maka harganya turun dan petani hanya bisa pasrah. "Sebetulnya kondisi ini kan bisa menciptakan peluang. Lombok itu dikeringkan, diolah menjadi sambal siap saji. Ini kan juga membutuhkan teknologi juga, nanti kita hubungan dengan pabrik juga," jelas Ganjar.

Lebih lanjut, badan usaha tersebut membutuhkan pendampingan dari penyuluh pertanian. Ganjar yakin dengan olahan dari produk pertanian maka kesejahteraan petani akan meningkat karena harga jual produk olahan lebih tinggi daripada produk baku.

Penyuluh pertanian dari Magelang, Siragil mengatakan selama ini selain menggunakan regopantes.com dia juga membantu menawarkan produk pertanian organiknya lewat sistem door to door. "Sudah dua kali kirim ke Jakarta, kita berharap usaha pertanian ini bertambah maju. Kita juga menerapkan sistem cluster untuk memetakan pasar yang sesuai," jelasnya.

(PU) Laporan: Dian Ade Permana
  1. Bantuan Pertanian
  2. Penyuluh Pertanian
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA