1. JAWA TENGAH
  2. PERIKANAN

Pemprov Jateng kembangkan alat pengganti cantrang karya nelayan Batang

Diberi nama Apollo dan Kelelawar karena memiliki bentuk yang seperti pesawat luar angkasa serta sayap binatang kelelawar.

Aziz Tarsono saat memperlihatkan inovasi jaring Apollo dan Kelelawar. ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Jum'at, 11 Agustus 2017 15:12

Merdeka.com, Jawa Tengah - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui UPP Iptekin Bappeda Jateng mengembangkan jaring pengganti cantrang yang merupakan karya dari seorang nelayan asal Batang Jawa Tengah. Alat tangkap ikan yang di desain dalam dua bentuk bernama jaring Apollo dan Kelelawar tersebut diharapkan bisa menjadi alternatif alat tangkap pengganti cantrang. Sebab saat ini, cantrang mulai dibatasi dan segera dilarang penggunaannya oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kepala UPP Iptekin Bappeda Jateng Hatta Hatnansya Yunus mengatakan inovasi ini bisa menjadi alternatif jaring untuk digunakan para nelayan. Meski begitu, alat ini memang masih perlu dilakukan uji coba secara langsung. Sebab saat ini temuan tersebut masih berbentuk prototype. "Kami lihat alat temuan ini ramah lingkungan, murah, dan bisa digunakan siapa saja, baik nelayan besar maupun kecil. Ini bukan hanya perlu diapresiasi, melainkan juga dikembangkan," ujarnya Jumat (11/8).

Ia mengatakan, UPP Iptekin Bappeda Jateng siap membantu pengembangan kedua jaring tersebut. "Yang jelas kami jamin dan akan memfasilitasi pengurusan Hak Kekayaan Intelektual atas inovasi tersebut," terangnya.

Alat tangkap ikan ini merupakan inovasi Aziz Tarsono, nelayan asal Dukuh Sulur RT 04 RW 05 Kelurahan Karangasem Utara, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang. Inovasi tersebut dibuatnya sejak 2015 lalu. Diberi nama Apollo dan Kelelawar karena memiliki bentuk yang seperti pesawat luar angkasa serta sayap binatang kelelawar.

Aziz yang ditemui belum lama ini mengatakan inovasi itu diciptakan dari kegagalan ayahnya menjadi nelayan yang telah mencoba berbagai macam jaring. Ia mengklaim, alat yang baru ini lebih ramah lingkungan, hemat bahan bakar hingga 80 persen, hasil tangkapan yang lebih baik, lebih praktis dan efektif serta yang pasti bisa dikembangkan lagi dengan teknologi yang lebih modern.

Ayah dari empat anak ini mengaku telah melalui perjalanan panjang hingga akhirnya ada pihak yang turut membantu mengembangkan temuannya. Alat tangkap tersebut pernah dipresentasikan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan setempat dan bahkan sudah sampai ke meja kerja Menteri KKP Susi Pudjiastuti. Namun sayang, ia tak mengetahui kelanjutan tentang beberapa presentasinya tersebut.

Hingga akhirnya oleh dinas terkait dan UPP Iptekin Bappeda Jateng, Aziz diminta ikut lomba Kreatifitas dan Inovasi (Krenova) 2017 dan berhasil masuk sepuluh besar. Untuk memperkenalkan temuan ini, pihak UPP Iptekin Bappeda Jateng juga membawanya pada Pameran Ritech Expo peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke 22 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan 10-13 Agustus 2017.

Kelebihan lain dari alat ini menurut Aziz yakni alat bisa langsung diangkat dalam situasi darurat dan hasil tangkapan ikan-ikan yang masih hidup bisa dibudidayakan. "Dan yang pasti alat ini bisa dikembangkan lagi semisal dengan perangkat hidrolik dan perangkat lunak, jadi bisa tinggal pencet jaringnya sudah turun, kerja nelayan juga bisa lebih ringan," jelasnya.

Cara kerja kedua alat ini menurut Aziz cukup sederhana dan efektif untuk menangkap ikan. Apollo yang memakai konstruksi seperti payung terbalik ini diturunkan di laut berdasarkan koordinat yang telah ditentukan `fish fender` atau alat pelacak ikan di laut dengan menggunakan alat derek. Pada bagian tengah alat diberi pakan ikan dan lampu yang dinyalakan saat malam hari, sekitar 10-15 menit, jaring ditarik ke atas dan ikan akan terangkut.

Penggunaan jaring Kelelawar juga hampir sama dengan jaring Apollo, tapi jangkauannya lebih lebar. Dan yang lebih penting menurutnya kedua alat ini sama-sama tidak menyentuh dasar laut sehingga terumbu karang aman karena juga dilengkapi dengan alarm sentuh karang, alat pengusir ikan hiu, lampu khusus laut, dan umpan agar benar-benar aman.

Aziz menambahkan, jaring Apollo bisa digunakan nelayan manakala arus air laut cukup deras, sedangkan saat arus tidak terlalu deras bisa menggunakan jenis jaring Kelelawar. Namun begitu ia mengaku belum bisa mengaplikasikan di laut lepas karena keterbatasan dana. Selama ini, ia pernah mencoba jaring tersebut untuk digunakan di tambak. Meski begitu, ia yakin inovasinya ini benar-benar bisa digunakan dan dimanfaatkan oleh nelayan.

Selain keefektifannya, Aziz mengatakan biaya untuk membuat jaring pun cukup terjangkau bagi para nelayan. Pembuatan jaring Apollo ungkapnya hanya membutuhkan dana sekitar Rp37,5 juta, sedangkan jaring Kelelawar Rp47,5 juta atau disesuaikan dengan ukuran kapal nelayan. Harga yang terjangkau tersebut karena seluruh bahan bisa didapatkan dengan mudah di dalam negeri. Seperti baja antikarat, baja ringan, aluminium, tali baja, tali nilon, tali plastik, mesin derek otomatis dan manual, ganco katrol, lampu khusus laut, genset, serta kompas.

(PU)
  1. Inovasi
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA