1. JAWA TENGAH
  2. MAKRO

Yuk intip adegan perjuangan suami-istri di Karangsari

" ...menjaga keutuhan keluarga itu juga sebuah perjuangan, merawat anak tumbuh kembang itu juga perjuangan."

Soerang suami yang rela di make up istri dalam lomba merias wajah menjadi sosok pejuang di Demak, Minggu (13/8).. ©2016 Merdeka.com Editor : Ibrahim | Minggu, 13 Agustus 2017 14:42

Merdeka.com, Jawa Tengah - Tidak ada jas, baju atau celana rapi yang disiapkan ibu-ibu Karangsari, Karangtengah Demak pada Minggu (13/8) pagi untuk suaminya. Sambil membawa lipstik, arang sampai bedak bapak-bapak terlihat berjalan dan duduk menuruti perintah istri.

Demikian halnya dengan anak-anak, mereka juga nampak berbeda dari hari biasanya, lebih riang dan penuh tawa dengan sesekali mendorong-dorong bapaknya agar berjalan lebih cepat. Mungkin di benaknya berkata, jika pada hari biasa aku yang disuruh cepat-cepat berangkat sekolah, sekarang giliran bapak yang harus cepat tiba di sekolah.

Pantas saja, para bapak berjalan sambil menggelendot lemas. Pagi itu, ternyata mereka akan disuruh duduk tenang di sebuah kursi dan hendak dieksekusi oleh istri masing-masing. Eits, jangan salah, ini bukan seperti eksekusi para narapidana.

Kali ini, bapak-bapak akan dieksekusi istrinya dengan di-make over seorang pejuang. Layaknya pejuang kemerdekaan yang berparas sangar, tak sempat memikirkan apakah tampilannya rapi atau tidak, sekaligus lelaki yang kuat.

Semua gambaran tentang sosok pejuang itu, harus tercermin pada bapak-bapak di Karangsari, khususnya wali murid PAUD Indagsari. Bagaimana caranya? Nah, itu tugas istri. Kusfitria Martyasih, salah satunya, Kepala PAUD Indagsari yang turut serta dalam adegan 'perjuangan' tersebut.

Para istri berkreasi sembari melihat gambar pahlawan nasional yang awalnya digunakan sebagai contoh riasan. Sayangnya, mereka justru tampak seperti meluapkan kebahagiaan dengan mencorat-coret wajah lelakinya.

Suasana tersebut terjadi dalam perlombaan merias wajah suami yang digelar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Indagsari.

Satu per satu dari lipstik, arang mendarat di wajah bapak-bapak, tidak ketinggalan pula bedak tabur yang diusap tak rata. Jadinya? Wajah yang semula bersih, jadi loreng moreng karena perpaduan garis hitam dan merah.

Anak-anak yang sedari awal sudah tertawa melihat bapaknya pasrah dicoret-coret wajahnya, semakin tak mampu menahan tawa terbahak. "Ya harus begini, sudah kaya orang perang ini loreng-loreng, merahnya darah," kata wanita yang akrab disapa Bunda Pipiet.

Perjuangan me-make over 'pejuang' sudah selesai. Cukup? Belum. Bapak-bapak yang telah diyakinkan menjadi pejuang tersebut, harus pergi ke 'medang perang', harus berjuang. Bedanya dengan pejuang sungguhan, bapak-bapak ini harus berjuang menggendong istri dalam jarak tertentu.

Menggendong istri menuju finis.
© 2017 jateng.merdeka.com/Istimewa

 

"Saat ini yang utama untuk dalam menjaga NKRI harus dimulai dari keluarga, makanya kami pilih perlombaan yang menyatukan suami dan istri. Setelah ibu-ibu merias suaminya, sang suami harus melanjutkan perjuangan dengan menggendong istrinya hingga garis finis," kata dia.

Maknyanya, lanjut Bunda Pipiet, layaknya pejuang, para suami juga harus menggendong beban. 

"Saat ini bebannya bukan berperang, menjaga keutuhan keluarga itu juga sebuah perjuangan, merawat anak tumbuh kembang itu juga perjuangan," kata dia di samping suaminya yang terus ngos-ngosan. Sudahkah Anda berjuang?

(I)
  1. Lomba HUT RI
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA