1. JAWA TENGAH
  2. MAKRO

Warga di desa ini keramas dengan tanah liat, mau coba?

“Ini tradisi turun-temurun dari nenek moyang desa kami, warga di sini yakin bahwa tanah liat mampu dimanfaatkan untuk keramas,”

Warga desa keramas dengan tanah liat. ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Rabu, 29 November 2017 14:05

Merdeka.com, Jawa Tengah - Keramas merupakan salah satu ritual atau bagian yang tak terpisahkan di kala mandi. Berbagai merek shampo menawarkan keunggulan produk masing-masing demi menjaga kesehatan rambut yang menjadi mahkota seseorang.

Selain itu, bahan-bahan alami macam daun urang-aring dan lidah buaya juga dapat menjadi alternatif lain, namun apa jadinya jika pilihan keramasnya menggunakan tanah liat?

Terdengar unik memang, namun keramas menggunakan media tanah liat telah menjadi salah satu tradisi yang adi luhung bagi warga Desa Klodran, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung selama berpuluh-puluh tahun.

Tanah liat yang biasa digunakan untuk bahan baku pembuatan genting, batu bata, ataupun gerabah, nyatanya mampu memberikan manfaat bagi kesehatan rambut. Tak sembarangan tanah liat, warga di desa ini hanya menggunakan tanah liat putih saja untuk membasuh mahkota mereka.

Warga percaya, dibandingkan bahan lainnya, tanah liat putih mampu memberikan dampak positif bagi rambut, seperti menguatkan akar rambut, mencegah ketombe, serta mengurangi kerontokan.

“Ini tradisi turun-temurun dari nenek moyang desa kami, warga di sini yakin bahwa tanah liat mampu dimanfaatkan untuk keramas,” kata Mujali salah satu warga desa.

Tak sulit mendapatkannya, mereka cukup mendatangi salah satu kebun milik warga setempat yang memang mengandung banyak tanah liat putih.

Agar dapat digunakan untuk berkeramas, warga cukup membasahi tanah liat dengan air sehingga tercampur menjadi adonan yang lebih lembek. Setelah itu, ”shampo adat tradisi” ini siap digunakan. Caranya mudah, cukup dioles-oleskan kepala lantas dibilas, tak ada bedanya dengan berkeramas menggunakan shampo pabrikan yang biasa digunakan.

“Memang saat keramas kepala kita kelihatan kotor dan berlumpur, namun setelah dibilas baru kelihatan hasilnya, lembut dan tidak ada rasa gatal sedikitpun. Lebih sehat dari shampo biasa yang dijual di warung-warung, dan yang pasti kalau pakai tanah liat ini irit,” lanjutnya.

Dinamakan tradisi nenek moyang, lantaran keramas tanah liat ini tak hanya dilakukan oleh kalangan warga dewasa saja, namun anak-anak juga tak mau ketinggalan turut melestarikan budaya turun-temurun ini.

Ajib Mashali misalnya, salah satu anak-anak di desa ini, mengaku sudah terbiasa keramas tanah liat lantaran mengaku cocok dengan efek yang dihasilkan.

“Kalau keramas dengan tanah liat tidak berbusa seperti pakai shampo, tapi di rambut lebih segar dan terasa lebih lembut,” akunya.

Tak hanya di Desa Klodran saja, keramas menggunakan tanah liat ini juga telah tersohor di desa-desa sekitar, sehingga masyarakat lain juga turut melakukan tradisi yang sama.

(PU) Laporan: Rizal Ifan Chanaris
  1. Temanggung
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA