1. JAWA TENGAH
  2. MAKRO

Raih IPK 3,91 di Kedokteran Gigi, anak montir ini jadi lulusan terbaik Unsoed

"Uang segitu tidak akan cukup untuk biaya praktikum, kan mahal beli alatnya. Kadang sampai pinjam alat ke kakak angkatan,"

Wisudawati Terbaik Unsoed, Vicky Aditya Lestari berfoto usai menerima ijazah pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Pascasarjana Ke-58, Profesi Ke-41, Sarjana Ke-126, Diploma Tiga Ke-105, dan Diploma Dua Ke-5 Universitas Jenderal Soedirman. ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Kamis, 14 September 2017 09:42

Merdeka.com, Jawa Tengah - Vicky Aditya Lestari (22) anak montir bengkel asal Kabupaten Brebes menjadi lulusan terbaik pada upacara Wisuda Pascasarjana Ke 58, Profesi Ke 41, Sarjana Ke 126, Diploma Tiga Ke 105, dan Diploma Dua Ke 5 yang digelar di Auditorium Graha Widyatama, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Rabu (13/9). Dia resmi menyandang gelar Sarjana Kedokteran Gigi (SKg) setelah berjuang selama empat tahun di Program Studi Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran.

Gadis kelahiran Kebumen, 6 Mei 1995 mengaku bangga bisa menamatkan studinya di kampus almamater jaket kuning. Selama kuliah, dia mendapatkan beasiswa Bidikmisi. Artinya, seluruh biaya perkuliahan ditanggung oleh pemerintah. "Dapat uang saku perbulan juga Rp 600 ribu, lalu kemarin naik jadi Rp 650 ribu," ujarnya, ketika ditemui di sela prosesi wisuda.

Meski kuliah secara gratis, Vicky sempat mengalami kesulitan biaya. Sebab, ayahnya, Taufik Hidayat (46) bekerja sebagai seorang montir sedangkan ibunya, Dwi Oktarita Puji Rahayu (43) adalah ibu rumah tangga.

Hal itu membuat pemilik IPK 3,91 memutuskan untuk mencari uang tambahan guna membeli peralatan praktikum yang tidak murah. Dia bekerja sebagai asisten dokter pada klinik kesehatan dan mengajar di panti asuhan.

"Uang segitu tidak akan cukup untuk biaya praktikum, kan mahal beli alatnya. Kadang sampai pinjam alat ke kakak angkatan. Kerja saya itu cuma cukup untuk makan. Tidak seberapa, tergantung jumlah kliennya," tutur anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Menurut Vicky, kekurangan finansial yang dialaminya bukanlah sebuah halangan untuk kuliah dan berprestasi. Terbukti, gadis berhijab ini pernah menggondol gelar Mahasiswa Berprestasi tahun 2016 dan dikirim ke Thailand pada program pertukaran mahasiswa Unsoed Intercultural Summercamp.

"Itu semuanya bisa, Alhamdullillah. Dan memotivasi saya untuk lebih baik," kata sarjana yang menyusun skripsi berjudul "Perbandingan Konsentrasi Pelepasan Ion Nikel Kawat Gigi Pada Paparan Radiasi Telepon Seluler Frekuensi 700 dan 2.600 Mhz" ini.

Taufik Hidayat, ayah Vicky, mengaku selalu membebaskan keinginan ketiga anaknya. Meski pendapatannya sebagai montir selalu pas-pasan, dia tetap berusaha mendorong dari belakang secara finansial.

"Selama 8 tahun ikut orang, jadi buruh bengkel pendapatannya tidak tentu sekitar Rp 500 ribu- Rp 1 juta. Tapi setahun ini sudah bisa buka bengkel sendiri kecil-kecilan. Walau berat, tapi rejeki ada terus, ya walaupun kecil," kata Taufik yang membuka bengkel di Jalan Jenderal Soedirman nomoer 138 Brebes ini.

Adapun pada upacara wisuda kali ini, Unsoed melepas 1.829 alumninya dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Pascasarjana Ke 58, Profesi Ke 41, Sarjana Ke 126, Diploma Tiga Ke 105 dan Diploma Dua Ke 5. Sebanyak 405 wisudawan dinyatakan lulus dengan predikat Cumlaude.

Rektor Unsoed, Dr Ir Achmad Iqbal MSi mengaku bangga pada wisuda kali ini, wisudawan terbaik diraih oleh peraih beasiswa Bidikmisi. Hal ini membuktikan bahwa Unsoed peduli dengan mahasiswa yang mengalami kesulitan keuangan. "Intinya, Unsoed adalah kampus kerakyatan dan memiliki kepedulian kepada mahasiswa yang kurang secara finansial," ujarnya. (suk)

(PU)
  1. Pendidikan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA