1. JAWA TENGAH
  2. MAKRO

Pengamat nilai program Ganjar pantas diadopsi nasional

" ... Kita lihat indeks pembangunan manusia Jateng misalnya yang sudah baik."

Para siswa berebut salaman dengan Gubernur Jawa Tengah ganjar Pranowo.. ©2016 Merdeka.com Editor : Ibrahim | Rabu, 09 Agustus 2017 18:08

Merdeka.com, Jawa Tengah - Selama empat tahun menjadi gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menelurkan sejumlah program. Beberapa di antaranya dinilai berhasil oleh Pemerintah Pusat bahkan diadopsi menjadi program Nasional.

Di antaranya pengendalian inflasi dengan aplikasi Sihati, Kartu Tani, kredit bunga rendah, SMK Jateng, dan pengendalian pungli serta gratifikasi. Menurut Guru Besar Ekonomi Universitas Diponegoro FX Sugiyanto, kebijakan yang berhasil baik di daerah sudah selayaknya diadopsi Nasional. Terlebih jika efek dominonya bagus untuk masyarakat luas.

Ia mencontohkan kredit bunga rendah Mitra 25 dan Mitra 02 Bank Jateng. Saat ini kredit bunga rendah menjadi tren Indonesia. ”Memang seharusnya didorong karena bagaimanapun suku bunga menjadi faktor penting untuk menarik investasi,” katanya, Rabu (9/8).

Apalagi, lanjut dia, kredit usaha kecil memang harus dikembangkan karena kebutuhan akses pembiyaan untuk UMKM sangat tinggi. Sebagai contoh, dari 4,17 juta usaha di Jateng, 98 persen di antaranya adalah usaha kecil.

“Karena jadi market leader, maka daerah lain arahnya akan ke sana (kredit bunga rendah),” katanya.

Terkait kebijakan Ganjar yang lain, menurut Sugiyanto, jika dinilai secara umum bisa dikatakan berhasil. Sejumlah program dalam bidang ekonomi berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Saat ini pertumbuhan ekonomi Jateng sebesar 5,18 %, lebih tinggi dari Nasional 5,01%.

“Bicara reformasi birokrasi suka tidak suka Jateng sekarang leader,” tegasnya.

Reformasi birokrasi yang patut mendapat apresiasi, menurut Sugiyanto adalah pembangunan sistem GRMS (Government Resource Management System). Dengan GRMS, Jateng bisa menekan kebocoran anggaran.

“Ini rintisan birokrasi yang bersih. Setiap orang bisa mengakses dan mengawasi penggunaan sumber daya dari perencanaan dan pelaksanaan,” jelasnya.

Menurut dia, dalam hal infrastruktur, Pemprov Jateng juga memiliki peranan signifikan pada infrastruktur pedesaan. Jalan-jalan kampung di desa saat ini mayoritas sudah beton.

“Infrastruktur Jateng sangat bagus, dan sekarang ada tren Jateng tujuan investasi, berarti prospeknya bagus, stabilitas sosial jarang ada gejolak, ini tidak lepas dari leadership gubernur,” katanya.

Jika ada yang harus dikejar adalah penurunan angka kemiskinan agar lebih signifikan. Untuk diketahui, ketika kali pertama menjabat gubernur tahun 2013, angka kemiskinan di Jateng 14,44 persen. Data BPS pada Maret 2017 tercatat turun 13,01 persen.

“Penurunan kemiskinan memang belum signifikan, tapi ukuran keberhasilan di mata masyarakat sebenarnya banyak indikator. Kita lihat indeks pembangunan manusia Jateng misalnya yang sudah baik,” katanya.

Dari catatan BPS, Indeks Pembangunan Manusia Jateng meningkat dari 68,02 pada 2013 menjadi 69,98 pada 2016. Sedangkan produktifitas total daerah tahun 2016 mencapai Rp 63 juta atau meningkat 7,84 % dari 2015. Produktifitas Jateng bahkan lebih tinggi dari Nasional yang hanya 4,96 %.

Pengamat Kebijakan Publik Universitas Diponegoro Teguh Yuwono setuju bahwa Ganjar sangat berhasil dalam membangun pemerintahan bersih dan pelayanan publik yang baik. Hanya saja memang, daya ungkit ekonomi dari pembangunan infrastruktur yang pesat belum dapat dirasakan dalam jangka waktu dekat.

“Reformasi birokrasi baik, pelayanan publik bagus, transparansi pemerintahan, tidak antikritik, komunikasi politik cukup baik. Tapi usaha gubernur dalam pembangunan ekonomi mikro dan kesejahteraan masyarakat harus ditingkatkan,” katanya.

(I)
  1. Ganjar Pranowo
  2. Pemerintahan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA