1. JAWA TENGAH
  2. MAKRO

Kunjungan Kerja di Grobogan, Ganjar tiba-tiba berhenti di depan rumah reyot

“Purun Kulo bantu mboten? Omahe didandani kersane luwih apik. (Mau saya bantu tidak? Nanti rumahnya dibenerin agar lebih bagus),”

©2016 Merdeka.com Editor : Ibrahim | Rabu, 29 November 2017 16:13

Merdeka.com, Jawa Tengah - Pada kunjungan kerja ke Kabupaten Grobogan, mobil dinas yang ditumpangi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tiba-tiba berhenti. Persis di depan sebuah rumah gubuk di Desa Jenengan, Kecamatan Klambu. Ketika itu, Ganjar tengah dalam perjalanan dari Ekowisata Ujung Kendeng menuju Balaidesa Jenengan, Rabu (29/11/2017).

Gubernur berambut putih itu kemudian turun dari mobil. Jelas hal ini membuat warga dan ajudan yang melihat kebingungan, karena hal ini tidak ada dalam agenda gubernur. Ganjar lalu melangkah menuju rumah sederhana itu. Pintu rumah masih tertutup. Ia pun sesekali menengok ke dalam dan mengucapkan salam. Namun tak juga ada jawaban.

Sejumlah warga yang mengetahui kemudian berdatangan dan bersalaman dengan Ganjar. Warga pun mengatakan jika si pemilik rumah tengah pergi ke ladang dan rumahnya kosong.

Namun tak berselang lama, seorang ibu paruh baya berlari kecil menuju rumah itu. Dengan menggendong balita dan menggandeng anak, ibu bernama Listiyati itu lalu buru-buru membukakan pintu untuk Ganjar.

Raut wajah Listiyati tampak kebingungan dan kaget. Ia tak menyangka rumahnya akan didatangi orang nomor satu di Jawa Tengah. "Monggo mlebet pak, ngapunten griyone reyot. Ngapunten garwo kulo tasih teng wono,” ujar Listiyati dalam bahasa Jawa.

Maksudnya yakni dia mempersilakan Ganjar masuk, dan meminta maaf karena rumahnya reyot. Ia juga mengatakan bahwa suaminya masih di ladang.

Ganjar lalu masuk rumah dan melihat kondisi rumah yang ditempati Listiyati bersama suaminya Sutrisman. Masuk hingga ke dalam dan melihat sekeliling, kondisi rumah itu membuat Ganjar mengelus dada karena tidak layak.

Dindingnya terbuat dari bilik bambu dengan alas yang masih tanah dan atap yang langsung genteng. Di bagian dapur, terlihat tungku yang terbuat dari tanah liat dengan kondisi apa adanya.

“Purun Kulo bantu mboten? Omahe didandani kersane luwih apik. (Mau saya bantu tidak? Nanti rumahnya dibenerin agar lebih bagus),” ucap Ganjar pada si ibu.

"Tapi nggih bantuane ora akeh, mengko gotong royong yo, warga lain ngrewangi (Tapi ya bantuan tidak banyak, nanti warga lain membantu gotong royong ya)," tambah Ganjar.

Sejenak Listiyati tertegun dengan mata berkaca-kaca. Ia kemudian menyalami Ganjar dan mengucapkan terimakasih hingga beberapa kali. “Purun pak, maturnuwun (mau pak, terimakasih),” ungkapnya lirih.

Ganjar mengaku tergerak saat melintas di depan rumah itu, yang ternyata masuk dalam rumah tak layak huni. “Saat saya masuk, benar kondisinya memprihatinkan. Bocor sana sini saat hujan dan tidak sehat,” ujarnya.

Rumah semacam itu, ungkap Ganjar memang masih ada di Jawa Tengah. Sebab itu ia meminta semua pihak yang berwenang untuk melakukan pendataan secara valid agar bantuan yang diberikan bisa tepat sasaran dan bisa dilakukan dengan cepat.

"Ini harus cepat, tidak bisa membiarkan masyarakat hidup seperti itu. Kalau sulit soal anggaran, saya bantu dengan dana pribadi," tandasnya.

Selain menggunakan dana pribadi Ganjar, nantinya perbaikan juga akan diusulkan ada pembiayaan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jateng.

(I)
  1. Rehab RTLH
  2. Grobogan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA