1. JAWA TENGAH
  2. MAKRO

Kisah pilu pengungsi banjir Klaten membawa bayi usia tiga minggu

"Sebagian warga yang terdampak banjir masih berada di pemukiman. Mereka menumpang di rumah-rumah yang lokasinya lebih tinggi,"

Pengungsi banjir Klaten dievakuasi di Kantor Desa Brangkal, Kecamatan Wedi. ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Rabu, 29 November 2017 15:03

Merdeka.com, Jawa Tengah - Menggendong bayi perempuan mungil, Rini (25) turun dari mobil bak terbuka milik PMI Klaten, Rabu (29/11) siang. Bersama sejumlah orang lanjut usia (lansia), warga Dukuh Tegalsari, Desa Pacing, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, ini dibawa ke Kantor Desa Brangkal oleh personal Koramil Wedi.

"Ini namanya Aliyah. Usianya baru tiga minggu. Sedangkan kakaknya usia enam tahun. Rumah saya kebanjiran. Tadi disuruh ngungsi bapak-bapak tentara yang menumpang perahu karet ke sini," ujar Rini saat diperiksa kesehatannya oleh tim medis Puskesmas Wedi di Kantor Desa Brangkal.

Berkebalikan dengan Rini, warga Dukuh Tegalsari lainnya, Rahayu (35), justru meninggalkan Kantor Desa Brangkal. Membawa empat anak kecil, dia hendak mengungsi ke rumah saudaranya yang berada di Dukuh Pagerjurang, Desa Melikan, Wedi.

"Barusan dijemput relawan SAR naik perahu karet. Jadinya tadi serba tergesa-gesa enggak persiapan bawa apa-apa. Yang penting bisa keluar rumah dulu. Karena kalau tetap di rumah takutnya air semakin tinggi. Jadinya mending mengungsi saja. Apalagi suami sedang merantau di Jakarta," kata Rahayu, sesaat sebelum menumpang kendaraan SAR Klaten.

Itulah cerita sejumlah pengungsi yang datang maupun pergi dari Kantor Desa Brangkal sebagai lokasi pengungsian. Mereka terpaksa meninggalkan rumah lantaran hujan deras yang mengguyur Klaten sejak Senin (27/11) siang hingga Rabu (29/11) dini hari.

"Sekarang sudah mulai stabil. Tapi semalam ketinggian air sempat satu meter karena luapan air Sungai Dengkeng. Sebab afur tanggul sungai di Dukuh Sapit Urang, Kadilanggon jebol mengarah ke utara. Padahal afur itu merupakan pertemuan dari alur Sosrodiningrat, lalu afur Pacing, bedahan dari afur Desa Birit, dan jebol ke utara ke sawah Melikan," kata Kepala Desa (Kades) Brangkal, Supriyanto.

Mengingat luapan air yang 'mbalik' ke pemukiman tersebut, lanjut Kades Supriyanto, sekitar 600 jiwa warga Dukuh Muker Kidul, Desa Melikan terdampak banjir. Sedangkan 109 orang terdiri dari lansia, balita, anak, dan dewasa berasal dari Dukuh Muker, Desa Brangkal, dan Dukuh Tegalsari, Desa Pacing dievakuasi secara bertahap ke Kantor Desa Brangkal.

"Sebagian warga yang terdampak banjir masih berada di pemukiman. Mereka menumpang di rumah-rumah yang lokasinya lebih tinggi. Tadi juga sudah kita antar logistik ke sana seperti air minum, mie instan, kopi, dan lain-lain. Sedangkan persawahan yang terendam banjir di Brangkal sekitar 75 hektar tanaman padi," papar Supriyanto.

Camat Wedi, Kukuh Riyadi mengatakan, dampak banjir di wilayah Wedi bagian Timur melanda 5 desa. Meliputi Desa Pacing, Brangkal, Melikan, Jiwo Wetan, dan Trotok. Dari sebagian desa tersebut, beberapa di antaranya terkepung banjir bervariasi hingga 1 meter.

"Semalam mobil dinas saya terjebak di Muker. Padahal sore harinya saat saya keliling ketinggian air sekitar mata kaki. Yang penting, teman-teman relawan menyelamatkan dulu agar terhindar dari korban jiwa," beber Kukuh saat ditemui di Kantor Desa Brangkal.

(PU) Laporan: Aditya Putra Wijaya
  1. klaten
  2. Banjir
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA