1. JAWA TENGAH
  2. MAKRO

Kerugian akibat bencana di Temanggung pada awal 2017 capai Rp 4 miliar

Kerugian sendiri ditimbulkan oleh dua peristiwa utama, yakni tanah longsor dan banjir yang tersebar di berbagai titik rawan.

©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Selasa, 28 Maret 2017 13:07

Merdeka.com, Jawa Tengah - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung mencatat, total kerugian material akibat berbagai bencana yang terjadi selama periode Januari sampai Maret 2017 mencapai sekitar Rp 4 miliar.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Temanggung, Agus Sudaryono menyebut, kerugian sendiri ditimbulkan oleh dua peristiwa utama, yakni tanah longsor dan banjir yang tersebar di berbagai titik rawan.

Namun demikian, pihaknya mencatat selama kurun waktu tersebut terdapat tiga peristiwa yang cukup besar. Yakni tanah longsor di Desa Kalimanggis Kecamatan Kaloran yang memicu lumpuhnya jalur alternatif Temanggung menuju Semarang selama dua hari usai material menutup badan jalan.

Kemudian dua peristiwa ambrolnya jembatan penghubung antar wilayah. Yakni di Desa Ngipik Kecamatan Pringsurat dan Desa Batur Kecamatan Kaloran yang menghubungkan dengan Desa Tlogopucang di Kecamatan Kandangan.

“Selama periode Januari sampai Maret mayoritas bencana yang terjadi disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Hanya ada tiga peristiwa besar yang kami catat, selebihnya hanya longsoran dengan skala kecil yang menutup sebagian akses jalan antar dusun maupun desa,” katanya Selasa (28/3).

Agus menambahkan, usai melewati periode dengan dominasi curah hujan tinggi, masyarakat diminta untuk mewaspadai datangnya masa peralihan atau pancaroba yang biasa diwarnai dengan fenomena alam berupa angin puting beliung.

Ia menyebut, di Temanggung sedikitnya terdapat tujuh kecamatan yang dianggap paling rawan terjadi puting beliung, yakni Temanggung, Tembarak, Selopampang, Parakan, Ngadirejo, Tretep, dan Wonoboyo yang tersebar di lereng Gunung Prau, Sumbing, maupun Sindoro, meski tak menutup kemungkinan juga dapat terjadi di wilayah lain.

“Contohnya, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu puting beliung terjadi di Kecamatan Kranggan menyebabkan pohon tumbang dan menimpa kendaraan yang melintas. Kemudian di Kecamatan Ngadirejo yang menyebabkan rusaknya bangunan kelas sebuah sekolah,” akunya.

Dijelaskan, angin puting beliung biasa terjadi menjelang turunnya hujan. Indikasinya adalah mendung tebal yang disusul angin kencang yang terjadi hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Oleh sebab itulah, pihaknya mengimbau kepada masyarakt untuk tidak berteduh atau memarkir kendaraannya di bawah pohon besar yang sudah rapuh karena tingkat kerawanan tumbang semakin tinggi.

“Kalau banjir dan longsor kan terjadi setelah dua sampai tiga jam setelah turunnya hujan. Sedangkan untuk angin puting beliung tidak sampai hitungan menit, bahkan detik saja bisa menyapu semua benda yang dilewati,” pungkasnya. (riz)

(PU)
  1. Bencana
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA