1. JAWA TENGAH
  2. MAKRO

Kejari Klaten musnahkan 410.600 batang rokok 'bodong'

"Nah dari tiga kali produksi itu totalnya Rp 320 juta cukai yang seharusnya dibayar, tapi tidak dibayarkan."

©2016 Merdeka.com Editor : Ibrahim | Senin, 20 Maret 2017 16:40

Merdeka.com, Jawa Tengah - Kejaksaan Negeri (Kejari) Klaten memusnahkan barang bukti berupa ratusan ribu batang rokok sigaret kretek mesin (SKM) tak bercukai. Hal itu menyusul tindak pidana yang dilakukan seorang pemilik pabrik rokok ilegal di Kecamatan Karanganom, Klaten.

Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Klaten, Nurul Anwar mengatakan, pemusnahan 410.600 batang rokok SKM bodong itu sesuai putusan inkracht Pengadilan Negeri Klaten terhadap terpidana Didit Pranoto asal Semarang. Ia terbukti bersalah lantaran memproduksi rokok tanpa izin.

"Terpidana atas nama Didit Pranoto terbukti melanggar pasal 50 Undang-Undang (UU) Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai. Akibat perbuatannya, terpidana dijatuhi hukuman pidana penjara dua tahun dan denda Rp 650 juta, subsider empat bulan," kata dia usai pemusnahan barang bukti di Kantor Kejari Klaten, Senin (20/3).

Ia menjelaskan, terpidana Didit ditangkap oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean B Surakarta pada 27 Maret 2016 lalu di pabrik rokok ilegalnya.

Modusnya, menyewa gudang milik warga di Desa Tarubasan, Kecamatan Karanganom untuk memproduksi rokok sigaret kretek mesin (SKM) ilegal. Namun terpidana Didit tak mengantongi izin Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC).

"Dengan memproduksi rokok tanpa izin, maka dia dengan maksud untuk mengelakkan kewajiban membayar cukai,” ucap Anwar.

Ditanya mengenai potensi kerugian, Anwar mengungkapkan, akibat produk ilegal tersebut total kerugian negara mencapai Rp 320 juta.

"Hitungan cukai Rp 300 per batang. Nah dari tiga kali produksi itu totalnya Rp 320 juta cukai yang seharusnya dibayar, tapi tidak dibayarkan. Sedangkan barang bukti yang dimusnahkan adalah hasil dari produksi ke tiga,” ungkap Anwar. (Dit)

(I)
  1. klaten
  2. Bea dan Cukai
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA