1. JAWA TENGAH
  2. MAKRO

Intensitas hujan tinggi, penambang pasir Merapi diminta waspadai longsor

".....Meskipun mereka legal, namun faktor keselamatan harus kita utamakan,"

©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Kamis, 30 November 2017 09:59

Merdeka.com, Jawa Tengah - Hujan deras yang mengguyur wilayah Klaten beberapa hari terakhir mengakibatkan banjir di sejumlah pemukiman penduduk berdekatan dengan aliran Sungai Dengkeng. Selain itu, potensi bencana berupa tanah longsor hingga lahar dingin juga mengintai masyarakat Klaten yang tinggal di lereng Gunung Merapi.

Kapolres Klaten AKBP Juli Agung Pramono meminta para penambang pasir maupun batu di sepanjang kawasan Kali Woro tersebut untuk waspada dan berhati- hati. Sebab meningkatnya curah hujan juga mengancam keselamatan mereka saat beraktivitas menambang.

"Kita warning. Cuaca sekarang ini sangat tidak kondusif untuk melakukan penambangan. Meskipun mereka legal, namun faktor keselamatan harus kita utamakan," kata AKBP Juli Agung saat ditemui di posko pengungsian Kantor Desa Brangkal, Kecamatan Wedi, Klaten, Rabu (29/11).

Peringatan kewaspadaan terhadap potensi tebing longsor dan lahar dingin tersebut, dia sampaikan kepada para Kapolsek yang wilayahnya terdapat aktivitas penambangan. Antara lain wilayah hukum Polsek Kemalang, Jatinom, Karangnongko, Manisrenggo, dan sebagian Polsek Tulung yang berdekatan dengan puncak Merapi.

"Utamanya warning di wilayah hukum Polsek Kemalang dan Jatinom. Para Kapolsek sudah saya minta bersinergi dengan masing-masing Danramil, Camat, Kepala Desa, untuk woro- woro, getok tular, hingga menggunakan sarana komunikasi yang ada agar mengistirahatkan (penambangan) warganya dulu," ujar Kapolres, usai menyerahkan bantuan bahan makanan pokok ke pengungsi banjir.

Hal senada juga disampaikan salah seorang relawan Pemantau Gunung Merapi Induk Balerante 907, Kecamatan Kemalang, Klaten, Didik Suparno (37). Setiap saat para relawan selalu mengamati aktivitas gunung baik secara visual menggunakan mata telanjang, menggunakan teropong maupun campur tangan teknologi berupa alat sensor pendeteksi gempa.

Menurut pemilik nama udara melalui radio Handy Talky (HT), Mr. Hold ini, curah hujan di lereng Merapi masih terpantau sedang. Sehingga jika turun hujan, dia menilai aktivitas penambangan di Kali Woro masih jauh dari ancaman lahar dingin.

"Kalau di alur Kali Woro sejauh ini masih biasa- biasa saja. Sedangkan ancaman tebing longsor itu juga bisa terjadi saat musim kemarau, tapi kapasitasnya kecil. Salah satunya disebabkan oleh penambang itu sendiri. Dia ceroboh saat membikin galian mirip goa. Akibatnya fatal, bisa mengancam jiwa," ujar Didik, yang juga tergabung dalam relawan Turahan Awu.

Berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, tercatat ada 76 desa tersebar di 13 kecamatan rawan bencana banjir, tanah longsor, dan lahar hujan pada musim penghujan ini. Rinciannya, 62 desa rawan banjir, 7 desa rawan longsor, dan 7 desa rawan lahar hujan.

(PU) Laporan: Aditya Putra Wijaya
  1. Merapi
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA