1. JAWA TENGAH
  2. MAKRO

Goreng tempe pakai gas rawa, Ganjar: Gas ini 100 tahun tidak habis

"Kalau soal bahaya, dari hasil riset ini relatif aman karena tekanannya lebih rendah dari elpiji,"

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mencoba memasak dengan menggunakan gas rawa di salah satu rumah warga di Desa Rajek, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Rabu (29/11). ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Rabu, 29 November 2017 15:14

Merdeka.com, Jawa Tengah - Warga di Desa Rajek, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, tak lagi dipusingkan dengan pembelian gas elpiji 3 kilogram atau gas melon. Padahal, gas yang biasanya diburu ini sering membuat risau karena di saat-saat tertentu bisa sulit didapat.

Hal ini karena rumah warga di desa itu kini sudah teraliri gas melalui instalasi pipa dari gas alam atau disebut juga gas rawa yang ada di desa itu. Kekayaan alam berupa gas ini bisa dimanfaatkan warga melalui bantuan anggaran dari Gubernur Jawa Tengah terkait pemanfaatan gas untuk pemberdayaan masyarakat pada 2017.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berkesempatan mengunjungi desa tersebut, Rabu siang (29/11/2017). Didampingi Kepala Dinas ESDM Jateng Teguh Dwi Paryono dan Bupati Grobogan Sri Sumarni, Ganjar juga menyempatkan mencoba menggoreng tempe di rumah warga yang sudah dialiri gas rawa.

Saat kompor dinyalakan, tampak api biru menyala seperti halnya menggunakan gas elpiji biasa. Tempe yang dimasak pun bisa matang sempurna dan aliran gas ini benar-benar bisa dimanfaatkan oleh warga untuk memasak.

Ganjar mengatakan keberadaan gas tersebut merupakan anugerah Tuhan yang telah memberikan kekayaan alam untuk bisa dikelola demi kesejahteraan. “Dan Pemprov Jateng memberi bantuan instalasi dengan dikoordinir Dinas ESDM agar gas rawa ini bisa digunakan warga, gas ini tidak akan habis dalam 100 tahun,” tuturnya.

Sementara ini, instalasi yang sudah dipasang bisa memenuhi kebutuhan gas untuk 100 kepala keluarga. Ganjar mengatakan keberadaan gas masih akan terus diteliti kandungan dan potensinya.

“Apakah hanya di sini atau ada juga di tempat lain, ini akan terus diteliti. Kalau soal bahaya, dari hasil riset ini relatif aman karena tekanannya lebih rendah dari elpiji. Kalau elpiji 8 bar, ini 5 bar, jadi lebih aman,” tambahnya.

Kepala Desa Rajek Moh Dhori mengatakan gas alam ini sudah dimanfaatkan warga selama kurang lebih dua bulan. Para warga ungkapnya mengaku senang dengan adanya bantuan instalasi gas rawa.

"Efisien dan luar biasa. Seperti memakai tabung gas melon. Kompor menyala api biru dan tiada henti. Ini hebat lah pokoknya. Dua bulan ini uji coba berhasil,” ungkapnya yang juga berharap gas ini bisa dimanfaatkan seluruh warga desa.

Warga yang sebagian besar merupakan buruh tani dan buruh bangunan mengaku merasa terbantu dengan adanya pemanfaatan gas alam. Setidaknya, rumah yang sudah teraliri gas tak perlu lagi mengeluarkan uang untuk pembelian gas melon.

“Alhamdulillah gas ini bermanfaat, uang yang biasanya untuk beli gas bisa saya sisihkan untuk keperluan sekolah anak. Soalnya suami hanya buruh tani dan penghasilannya pas-pasan,” ungkap seorang warga, Pujiyati (45).

Penemuan gas ini berawal saat warga akan membuat sumur bor. Berkali-kali, sumur yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan air bersih itu justru menyemburkan air yang tinggi. Kondisi ini kemudian membuat Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng menerjunkan tim ahli geologi untuk melakukan riset pada 2013 lalu.

Hasilnya, ternyata kandungan gas alam melimpah ruah terpendam di tanah desa. Secara ilmiah, ahli geologi yang diterjunkan menyebutkan bahwa gas alam di Desa Rajek itu sebagai gas rawa, yaitu gas alam yang bersemayam di kedalaman yang dangkal. Sebab gas itu bisa ditemukan hanya pada kedalaman 30-40 meter. Usia gas disebut lebih muda dan bersih dibanding gas alam yang terpendam di kedalaman ratusan hingga ribuan meter.

Dari hasil penelitian itu kemudian diciptakanlah teknologi tepat guna untuk pemanfaatan gas alam. Dari tiga titik lokasi pengeboran, air yang mengandung gas rawa itu dialirkan melalui pipanisasi menuju separator untuk dipisahkan air dan gasnya. Airnya dibuang sedangkan gas tersebut dialirkan melalui pipa ke kompor di rumah-rumah warga.

(PU)
  1. Gas
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA