1. JAWA TENGAH
  2. MAKRO

Ganjar minta bakal caleg perempuan lebih kreatif dalam menarik hati masyarakat

"....pasang gambar sosialisasinya, atau tulisannya bagaimana, dibikin yang kreatif, jangan hanya mohon doa restu,"

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas Politik Bagi Perempuan Bakal Calon Pada Pemilu 2019 Provinsi Jawa Tengah, di Royal Hotel Solo, Rabu (13/9). ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Rabu, 13 September 2017 15:50

Merdeka.com, Jawa Tengah - Bakal calon anggota legislatif (caleg) perempuan Pemilu 2019 didorong untuk melakukan hal-hal istimewa. Selain itu, para wakil rakyat juga diharap tidak banyak berjanji tapi lebih sering memberi pendekatan langsung kepada masyarakat.

"Persiapkan diri, tidak perlu muluk-muluk. Cukup pendekatan emosional yang intens, miliki agenda setting serta program kerja yang jelas," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas Politik Bagi Perempuan Bakal Calon Pada Pemilu 2019 di Provinsi Jawa Tengah, Rabu (13/9) di Royal Hotel Solo. Dia berharap, dengan adanya pelatihan tersebut dapat meningkatkan partisipasi perempuan dalam politik serta mampu memberi warna dalam parlemen.

Ganjar mengatakan, perempuan cenderung lebih teliti dan tekun dalam perbuatannya. "Itu bisa menjadi kekuatan dalam pendekatan ke masyarakat. Di tengah era yang individualistik dan liberal ini, politikus perempuan harus tampil dengan segala potensinya, berikan sesuatu yang beda dalam pola pendekatan," jelasnya.

Lebih lanjut, Ganjar berharap agar pelatihan tersebut bisa semakin memberi pemahaman terkait peraturan pemilu. Apalagi, saat ini sistem dalam perhitungan suara berbeda dengan pemilu sebelumnya.

"Kenali dengan baik cara menghitungnya, kawal mulai dari pencoblosan hingga proses penghitungannya. Soal komunikasinya bagaimana, pasang gambar sosialisasinya, atau tulisannya bagaimana, dibikin yang kreatif, jangan hanya mohon doa restu. Nanti itu diajari oleh tim ini, " ucapnya. Dia yakin, jika kerja politik yang dilakukan baik maka perempuan bisa mengisi parlemen hingga 30 persen.

Meski begitu, Ganjar mengakui pemilihan dengan suara terbanyak sangat fair. "Jika ingin ada 30 persen perempuan di parlemen, mungkin bisa dengan cara zipper system, jadi dalam plot tiga nomor pertama ada satu perempuan. Tapi ditempatkan minimal di nomor dua, ini pasti jadi. Namun ternyata cara tersebut juga belum nendang," terangnya. 

Sementara, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Jateng, Sri Kusuma Astuti mengatakan tingkat partisipasi perempuan di DPRD Jateng hasil pemilihan legislatif (Pileg) 2014 baru mencapai 24% dari jumlah 100 kursi. Sementara di 35 kabupaten/kota di Jateng, jika di rata-rata baru mencapai 17,4%. Rendahnya keterwakilan perempuan di parlemen berdampak pada rendahnya aspirasi yang tersampaikan.

"Keterwakilan harus bisa ditingkatkan. Keberadaan perempuan di parlemen dapat meningkatkan kesejahteraan perempuan. Mereka yang duduk di legislatif bisa mengawal aspirasi dan memperjuangkannya,'' kata Kusuma.

Ia menambahkan perempuan dituntut tak hanya cakap mengurus rumah tangga namun harus melek politik. Alasanya, jumlah penduduk Indonesia sebagian besar perempuan dan mereka memiliki aspirasi tersendiri. Baik persoalan kesejahteraan dan layanan. Aspirasi itu akan lebih terkawal jika jumlah legislator perempuan semakin banyak.

(PU) Laporan: Dian Ade Permana
  1. Pemilu
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA