1. JAWA TENGAH
  2. MAKRO

Ganjar kunjungi rumah bocah yang dikabarkan bekerja demi hidupi ibu dan kakeknya

"Cerita tentang kebenaran tidak boleh diceritakan bengkok. Kalau seperti itu harus kita luruskan,"

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengunjungi rumah Hafidin di Banjarnegara, Kamis (14/9). ©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Kamis, 14 September 2017 22:01

Merdeka.com, Jawa Tengah - Gubenur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengunjungi rumah keluarga Hafidin, di Dusun Belokan, Desa Kebutuhjurang, Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara, Kamis (14/9). Bocah berusia 10 tahun yang duduk di bangku kelas V SD Kebutuhjurang 1 tersebut diberitakan bekerja untuk menghidupi ibu dan kakeknya selepas ayahnya meninggal.

Ibu Hafidin, Biyah (40) saat ini tidak bisa bekerja karena menderita rematik parah. Bahkan untuk berjalan tubuhnya harus ditopang tongkat dari bambu. Sementara kakeknya, Medi (82), sudah berusia lanjut sehingga tidak bisa lagi bekerja.

"Kamu kalau sudah besar mau jadi apa?" tanya Ganjar kepada Hafidin yang menyambutnya di luar rumah. Sementara Medi dan Biyah menunggu di dalam rumah. "Polisi pak," jawab bocah tersebut dengan lugas.

"Polisi yang kaya gini atau yang seragamnya coklat," lanjut Ganjar. Dia meminta Hafidin memilih antara Polri atau Polisi Pamong Praja. "Polisi yang ini pak," kata Hafidin merujuk ke Polri.

Saat masuk ke dalam rumah, Ganjar langsung berbincang dengan Biyah. Di hadapan Ganjar, Biyah membantah anaknya bekerja untuk menghidupi keluarga tersebut. "Niki mboten kerjo pak, namung dolan wong bocah tesih cilik (Ini tidak kerja pak, cuma main karena masih anak kecil)," jelasnya. Menurut Biyah, Hafidin seperti kebanyakan anak-anak di desanya. Sepulang sekolah dia langsung bermain, dan terkadang juga membantunya membereskan pekerjaan di rumah.

Untuk sekolah, Hafidin tidak membayar. Bahkan dirinya juga menerima berbagai bantuan dari program pemerintah seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Raskin. Dikatakan Biyah, untuk tempat tinggal dia selama lima tahun ini menumpang di rumah saudaranya. Ini karena rumahnya yang berada tepat di belakang rumah yang sekarang ditempati telah roboh. Dia mengaku tidak bisa memperbaiki karena tidak lagi bekerja.

Sebelumnya, beredar kabar Hafidin terpaksa bekerja untuk menghidupi ibu dan kakeknya. Di saat anak-anak seusianya bermain, Hafidin menawarkan jasa pada tetangganya yang membutuhkan barang dan Hafidin akan membelikannya di warung. Seperti membelikan beras, minyak atau gula sesuai kebutuhan. Dari pekerjaan itu, ia mengaku diberi upah Rp1.000 hingga Rp2.000 oleh tetangganya.

Menanggapi informasi tersebut, Ganjar mengatakan menengok keluarga Hafidin karena adanya pemberitaan yang terhitung seram. "Kan itu di berita ditulis kerja membantu orang tua, tidak dapat bantuan. Tapi kan itu tidak benar karena dari Dinsos dan TKSK berkunjung ke sini," jelasnya.

Ganjar pun menyatakan ingin meluruskan pemberitaan tersebut. "Cerita tentang kebenaran tidak boleh diceritakan bengkok. Kalau seperti itu harus kita luruskan," tegasnya. Dia pun berharap agar tidak ada dramatisasi berlebih terhadap suatu kejadian.

Soal bantuan, Ganjar menyampaikan ada dari Presiden Joko Widodo untuk membangun rumah sekaligus biaya pendidikan Hafidin sebesar Rp 30 juta. "Bantuan sudah ada, dari Presiden, dari Provinsi, dari Bank Jateng. Tadi saya minta juga warga untuk gotong royong membangun rumah keluarga Hafidin," paparnya.

(PU) Laporan: Dian Ade Permana
  1. Kemiskinan
  2. Kunjungan Gubernur
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA