1. JAWA TENGAH
  2. MAKRO

Bikin terharu, dua guru tidak tetap ini mencurahkan isi hatinya pada Ganjar

“PGRI dan guru tidak perlu sok manja, bawel, dan merasa menjadi korban. Sebaliknya, birokrasi tidak perlu sok sibuk, sok jaim, dan sok kuasa."

©2017 Merdeka.com Editor : Ibrahim | Senin, 11 Desember 2017 11:06

Merdeka.com, Jawa Tengah - Dua guru tidak tetap (GTT) menumpahkan curahan hatinya langsung kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Di depan ribuan peserta Perayaan HUT Ke-72 PGRI dan Peringatan Hari Guru Nasional PGRI Jawa Tengah di Balairung UPGRIS Semarang, Sabtu (9/12) mereka mengaku bahwa menjadi guru bukan sekadar mencari uang, namun berjuang.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beberapa kali terlihat mengangguk dan geleng-geleng mendengar curahan hati Oktalia Budi Susanto, seorang guru tidak tetap di SD Karangtengah I Subah Batang. Bahasa tubuh yang dikeluarkan Ganjar menyiratkan kekagumannya.

Kepada orang nomor satu di Jawa Tengah tersebut, Budi mengaku bahwa dari profesinya sebagai guru tidak tetap setiap bulan dirinya hanya menerima gaji Rp 300 ribu. "Bahkan pada awal mengajar saya menerima gaji hanya Rp 200 ribu per bulan," kata dia.

Tidak berhenti pada gaji dirinya, Budi juga mengungkap besaran gaji istrinya yang juga berprofesi sama, yakni GTT. "Istri saya yang juga bekerja sebagai GTT SMP memperoleh gaji Rp 500 ribu per bulan," kata dia.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup berumah tangga, akhirnya Okta menjalankan pekerjaan sampingan sebagai operator di dana pensiun dan jasa driver. Sebagai operator, Okta memperoleh gaji Rp 1,3 juta per bulan.

Tidak berbeda jauh dengan Okta Budi, Sulyanto juga hanya menerima gaji Rp 350 ribu per bulan. Dia seorang guru tidak tetap di SDN 3 Wirosari Grobogan. Gajinya setara dengan gaji sang istri yang juga GTT SD.

Jika digabung, penghasilan sepasang guru tersebut hanyalah Rp 700 ribu per bulan, seperti menarik ulur napas mereka juga harus menghidupi dua orang anaknya.

Akhirnya, sebagai jalan lain Sulyanto menginjakkan kaki di sawah, dia memilih bertani dan membuka jasa driver untuk menambah penghasilan, meski pun hasilnya juga tak menentu. Dia juga menggarap tanah yang disewa, sehingga bisa menambah pendapatan.

Mendengar pengakuan Budi, Ganjar tidak bisa menjawab apa-apa, dia hanya menghela napas dan melontar tanya pada dua GTT tersebut.

“Panjenengan benar-benar mencintai profesi ini? Tidak terbesit pikiran akan meninggalkan profesi ini?” tanya Ganjar kepada Sulyanto dan Budi.

“Tidak Pak. Menjadi guru adalah panggilan jiwa,” jawab keduanya mantap.

Ganjar sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya menularkan semangat pada ribuan guru yang memenuhi ruangan. Bahwa tidak banyak orang yang memiliki semangat juang tinggi untuk mengabdi, meskipun imbalan yang diterima tidaklah banyak.

“Bapak/Ibu jangan kecil hati. Saya bangga betul dengan guru GTT yang punya passion mengajar. Kami tidak akan pindah profesi apapun yang terjadi. Itu sikap yang menurut saya membanggakan,” ujarnya sambil berpesan agar para guru, khususnya GTT senantiasa optimistis dalam menjalankan tugas.

“Bangkitkan optimisme. Mudah-mudahan saya dan Bapak/Ibu semua senantiasa sehat dan tidak luntur semangat perjuangannya. Selalu cerdas dan berpartisipasi mengatasi persoalan,” pesannya.

Saat ini status GTT tidak jelas karena mereka diangkat oleh kepala sekolah yang merasa kekurangan tenaga pengajar. Padahal di Jateng saat ini kekurangan guru mencapai 49.631.

Rinciannya TK, SD dan SMP sebanyak 38.859. Kemudian 4.732 guru SMA, 5.056 guru SMK, dan 934 guru SLB.

Sementara itu, Ketua Umum PGRI Dr Unifah Rosyidi MPd berpesan agar guru senantiasa dapat menjadi suri teladan bagi para siswanya.

“Guru yang istimewa adalah guru yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga menggerakkan anak-anak kita untuk terus belajar. Karena kita berkomitmen menjadikan guru sebagai lokomotif perubahan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua PGRI Jawa Tengah Widadi mengatakan, permasalahan yang dihadapi para guru hendaknya didiskusikan melalui dialog yang terbuka, logis, empati, dan etis agar memperoleh solusi yang bijak. Baik guru maupun pemerintah hendaknya proaktif, bukan reaktif.

“PGRI dan guru tidak perlu sok manja, bawel, dan merasa menjadi korban. Sebaliknya, birokrasi tidak perlu sok sibuk, sok jaim, dan sok kuasa. Sehingga bisa saling memahami. Mindset masing-masing harus dewasa dan berpikir bahwa selalu ada jalan keluar yang cerdas,” jelasnya.

Widadi menuturkan, keseriusan Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP sebagai host saat memandu focus group discussion tentang “Solusi Mengatasi Kekurangan Guru dan GTT honorer” beberapa waktu lalu adalah kado indah bagi HUT Ke-72 PGRI.

“Betapa Bapak Gubernur gigih memperjuangkan GTT. Sehingga kita tidak perlu ragu atas komitmen beliau,” tuturnya.

Sebelumnya, pada Rabu (6/12) Ganjar juga telah menghadap Presiden Joko Widodo secara khusus untuk membahas GTT. Turut bergabung Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Pendidikan Kebudayaan Muhadjir Effendi.

Dalam pertemuan itu dicapai kesepakatan untuk mempercepat pembahasan peraturan pemerintah tentang pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Saat ini rancangan PP masih berada di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB).

(I)
  1. Pendidikan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA