1. JAWA TENGAH
  2. MAKRO

Banyak laporan, 22 sopir dan 28 petugas tiket BRT dirumahkan

"Mulai dari yang katanya ugal-ugalan, menerobos lampu merah, merokok di dalam bus, berkata kasar dan lainnya....,"

©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Selasa, 10 Oktober 2017 09:04

Merdeka.com, Jawa Tengah - Memasuki tri wulan ketiga tahun ini, yaitu sejak bulan Januari hingga September, keluhan masyarakat terhadap pelayanan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang mencapai angka 459. Total laporan tersebut dihimpun dari kanal Lapor Hendi, Hotline BRT Trans Semarang serta media sosial.

Plt Kepala Badan Layanan Umum (BLU) BRT Trans Semarang, Ade Bhakti menyebutkan, jumlah tersebut bervariasi setiap bulannya. Sementara untuk keluhan tertinggi ada pada bulan Juli. "Paling banyak ada di bulan Juli yang tembus diatas 100 keluhan yaitu diangka 114 keluhan," sebutnya, kemarin.

Sementara, untuk kategori koridor dengan jumlah keluhan terbanyak, ia mengungkapkan, ada pada Koridor I, yang menghubungkan Terminal Mangkang dengan Terminal Penggaron.

"Sementara jika kita breakdown ke masing-masing koridor. Koridor I paling banyak mendapat keluhan masyarakat yaitu di angka 129 laporan, di mana koridor I ini dioperasionalkan oleh PT. Trans Semarang," paparnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan, sebagian besar keluhan dari masyarakat pengguna BRT Trans Semarang maupun pengguna jalan raya tersebut, didominasi keluhan untuk sopir BRT Trans Semarang, yaitu sebanyak 95 keluhan.

"Mulai dari yang katanya ugal-ugalan, menerobos lampu merah, merokok di dalam bus, berkata kasar dan lainnya. Sedangkan di bawahnya adalah terkait tidak merapatnya armada ke shelter, alias ninggal penumpang," sebutnya.

Menindaklanjuti keluhan tersebut, hingga September lalu, pihaknya telah merumahkan sebanyak 22 sopir BRT Trans Semarang serta 28 petugas tiket yang terbukti menyalahi standar operasional prosedur (SOP) tingkat berat.

"Hal tersebut kami maksudkan supaya rekan-rekan saya ini, baik sopir maupun petugas tiket, dapat menjalankan pekerjaannya sesuai SOP sehingga yang dulu dikatakan manajemen BRT ada pembiaran terhadap karyawan yang tidak beres dalam tanda kutip, kini tidak lagi beranggapan seperti itu," tambahnya.

(PU) Laporan: Jamal Abdun Nashr
  1. Transportasi
  2. BRT Semarang
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA