1. JAWA TENGAH
  2. INDUSTRI

Polemik pabrik semen, FMMR: Rembang bukan Kendeng

“Gerakan menolak pabrik semen di Rembang yang dilakukan oleh orang luar Rembang dengan mengatasnamakan Kendeng sudah meresahkan warga Rembang.”

Pabrik Semen Indonesia di Rembang.. ©2016 Merdeka.com Editor : Ibrahim | Selasa, 04 April 2017 14:45

Merdeka.com, Jawa Tengah - Menyikapi polemik Semen Indonesia di Rembang, Forum Masyarakat Madani Rembang menyatakan sikap untuk mendukung keberlanjutan PT SI tetap berdiri.

Hal tersebut disampaikan Jumali, Koordinator FMMR dalam jumpa pers di Rembang, Selasa (4/4) siang.

Jumali mengatakan bahwa sikap dari FMMR tersebut adalah menuntut KLHS didasarkan pada kebenaran secara obyektif tanpa adanya intervensi dari pihak manapun.

“Karena selama ini ada beberapa warga di luar Rembang yang menyatakan menolak pabrik semen, dan itu menurut kami melanggar, karena mereka bukan warga Rembang,” jelasnya.

Jumali juga mengatakan bahwa masyarakat Rembang menyakini bahwa KLHS didasarkan pada kajian yang profesional berbasis data dan fakta ilmiah sebagaimana disampaikan oleh para pakar dan ahli juga ESDM bahwa tidak ada indikasi keberadaan aliran sungai bawah tanah di Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih di Rembang.

“Berdasarkan kajian CAT Watuputih sebagai kawasan bentang alam karts bukan wilayah terlarang untuk segala aktivitas pertambangan, dengan iu maka PT SI di Rembang tidak melanggar aturan dan untuk itu warga Rembang mendukung berdiri pabrik,” jelas Jumali.

Bahkan Jumali yang mengatasnamakan FMMR mengutuk keras politisasi terhadap pembangunan pabrik semen di Rembang yang dilakukan LSM dan oknum di luar wilayah Rembang yang mengatasnamakan warga Rembang.

“Gerakan menolak pabrik semen di Rembang yang dilakukan oleh orang luar Rembang dengan mengatasnamakan Kendeng sudah meresahkan warga Rembang,” jelasnya.

Jumali juga mengemukakan bahwa dia percaya pemerintah tidak akan kalah dengan sekelompok orang yang mengatasnamakan warga Rembang. “Kami warga Rembang mendukung sepenuhnya untuk berdirinya pabrik semen,” jelasnya.

Acara yang bertajuk Rembang Bukan Kendeng tersebut dihadiri 14 wakil dari masing-masing kecamatan di Rembang. Dalam acara tersebut juga dipaparkan oleh Jumari sebagai Koordinator Forum bahwa ada beberapa kerugian yang akan dialami warga Rembang jika pabrik ditutup.

“Salah satunya yang akan hilang adalah peluang dan kesempatan warga Rembang untuk hidup sejahtera, selain itu hilangnya kesempatan kerja bagi 350 tenaga berkeahlian dan 6.075 tenaga kerja masa proyek dan 68 tenaga selama operasional dan itu jumlahnya sangat besar,” jelas Jumali.

Selain itu yang disoroti Jumali dalam paparannya adalah hilangnya kesempatan berdirinya perguruan tinggi Akasi, Akademi Komunitas Semen Indonesia yang akan menampung 50 Mahasiswa pertahunnya.

“Pada dasarnya PT SI adalah BUMN dan itu milik Negara, dan itu bisa dibilang sebagai benteng masuknya semen asing, sebagai kemandirian program dan kedaulatan bangsa,” jelasnya. (Mam)

(I)
  1. Semen Rembang
  2. Pabrik Semen
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA