1. JAWA TENGAH
  2. INDUSTRI

Pengamat ekonomi sebut Jateng idola relokasi industri

"..pengusaha asing yang ternyata mereka tidak takut berinvestasi dan tidak terpengaruh dengan kondisi politik, seperti pilkada serentak,"

©2016 Merdeka.com Editor : Puji Utami | Kamis, 12 Oktober 2017 12:26

Merdeka.com, Jawa Tengah - Provinsi Jawa Tengah, ungkap Ekonom Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Sri Sulandjari, kini menjadi idola dan sasaran relokasi industri dari kota-kota besar lainnya. Bahkan kondisi ini diprediksi masih akan berlangsung dalam 2-3 tahun ke depan.

"Sekarang pun sudah, seperti di Wonogiri. Banyak perusahaan hasil relokasi dari kota-kota besar yang berdiri di sana. Di Semarang, Demak juga sama, kemudian Boyolali juga," katanya di Semarang, kemarin seperti dikutip dari Antara.

Ia mengatakan banyak perusahaan garmen dari Jakarta, Tangerang, dan Bandung melakukan relokasi atau berpindah tempat dengan mencari lokasi yang banyak pekerjanya, salah satu daerah tujuanya adalah Jateng.

"Kondisi tersebut sebenarnya menguntungkan karena bisa menyerap tenaga kerja lokal di daerah tersebut sehingga meningkatkan perekonomian daerah, khususnya Jateng," katanya.

Apalagi, kata dia, ada kecenderungan iklim investasi yang terus meningkat di Jateng, termasuk pengusaha asing yang menanamkan investasinya di provinsi tersebut seiring kondisi sosial politik yang kondusif.

"Pernah kami berdiskusi dengan beberapa pengusaha asing yang ternyata mereka tidak takut berinvestasi dan tidak terpengaruh dengan kondisi politik, seperti pilkada serentak," katanya.

Tentunya, kata dia, bermunculannya industri baru hasil relokasi dari kota-kota besar dan meningkatnya investasi bisa membantu penanggulangan problem kemiskinan di wilayah Jateng.

Mengenai kemiskinan, ungkapnya, sebenarnya keberadaan kantong-kantong kemiskinan di Jateng, terutama di daerah-daerah tandus memang menjadi problem tersendiri yang harus diatasi agar daerah tersebut bisa menjadi subur.

"Selain karena persoalan alam, yakni kesulitan air, tanah tandus yang ada selama ini juga diakibatkan pola tanam yang menggunakan pupuk dan obat-obatan kimia sehingga membuat tanah menjadi tidak subur lagi," katanya.

Semestinya, kata dia, dilakukan "treatment" untuk membuat tanah kembali subur yang diikuti dengan penerapan sistem "integrated farming", yakni pertanian pangan dan hortikultura, perikanan, serta peternakan.

"Masyarakat yang melakukan, sementara pemerintah hanya perlu memberikan stimulus, misalnya membantu investasi awal. Kalau pertanian terintegrasi sudah berjalan, nanti akan muter sendiri," kata Sri.

(PU)
  1. Kawasan Industri
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA